Biografi Cipto Mangunkusumo

Cipto berulah, melakukan gebrakan mengejutkan menentang kemapanan Kraton Surakarta, pusat feodalisme Jawa. Pada 1909, dengan seenaknya ia berkendaraan berputar-putar di alun-alun Kraton Surakarta. Padahal menurut kebijakan kraton, hanya kereta Sunan dan para bangsawan saja yang diizinkan berkendaraan di situ[1]. Tak ayal tingkahnya itu secara telak telah menohok muka kraton dan para priyayi kolot anti-perubahan.

Ulah itu merupakan hantaman pertama yang dilakukan Cipto terhadap Kraton Surakarta. Sepuluh tahun kemudian, ia melancarkan kembali hock keras kepada Kraton Surakarta lewat suratkabar. Pada 9 Juni 1919, Cipto menulis sebuah artikel yang dimuat harian Panggoegah[2]. Artikel itu intinya berisi tentang usulan untuk menyuruh Sri Susuhunan Pakubuwono X dan Mangkunegaran VII mundur dari tahta kerajaannya, dengan diberi uang bulanan tetap sebesar f. 2.000. Ia menilai, dua kraton yang kontra-produktif itu, telah membebani rakyat. Tidak sampai di situ saja, pada 16 Juni 1919—sehari setelah mengadakan pertemuan pengurus Insulinde—secara terang-terangan Cipto mengecam bahwa Amangkut II beserta keturunannya merupakan budak-budak daripada feodal VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) berikut penggantinya, negara kolonial Hindia-Belanda.[3] 

Pungkas kecaman ini terjadi pada 19 Juni 1919, melalui harian yang sama, ia mengatakan, “tak bisa disangkal lagi, doea keradjaan itoe memangsa pendoedoeknja, bahwa mereka tak bisa bertahan hidoep tanpa mengisap rakjat sampai ke soemsoemnja, tanpa melonggarkan pajak jang begitoe mentjekik... Saja merasa bahwa segala kemewahan itoe biajanja haroes dibajar dari kantor orang kromo... pada achirnja orang kromo itulah jang haroes ‘menghidoepi’ radja.”[4]

Ia memang sengaja melakukan semua itu, karena jengah terhadap budaya kaum feodal. Kaum yang dipandangnya sebagai kaum kolot anti perubahan. Jauh sebelumnya, ia pernah bertentangan visi dengan Dr. Radjiman mengenai masalah BO[5] (Boedi Oetomo) di kongres perdana BO di Yogyakarta tanggal 3 Oktober 1908.[6] Ketika itu, Dr. Radjiman kukuh berpendapat bahwa BO adalah suatu gerakan yang bersifat Jawa tulen. Radjiman merupakan seorang tokoh nasionalisme Jawa, yang memegang teguh adat Jawa kolot. Ia menganggap BO adalah sarana paling tepat untuk menghidupkan dan mengembangkan kebudayaan Jawa yang mulai tergeser nilai-nilainya.

Prinsip yang dipegang Radjiman adalah “bangsa Jawa adalah tetap bangsa Jawa”. Oleh karena itu identitas kebangsaan Jawa harus tetap dipertahankan dan sebaliknya, pengetahuan Barat tidak sesuai bagi orang Jawa. “Orang Jawa tidak perlu belajar Bahasa Belanda atau mengetahui kepandaian Eropa, sebab memang orang Jawa tidak dapat menguasai pengetahuan sebagai orang Eropa,” katanya dalam pidato sambutan kongres ke-I BO di Yogyakarta.[7] 

Pendapat Radjiman yang berlawanan dengan pergolakan pergerakan pada masa itu, jelas ditentang banyak kalangan progresif. Salah seorang penentangnya di antaranya adalah Cipto Mangunkusumo. Usai Dr. Radjiman berpidato, Cipto segera menginterupsi pendapat sang Ketua Umum. Ia sangkal pendapat Radjiman yang menganggap pendidikan Eropa bagi orang Jawa akan membuang jiwa kejawaannya, kerajinannya, kesopanannya dan ciri-ciri khasnya. Cipto menilai pemikiran semacam itu salah. Justru sebaliknya, pendidikan Eropa akan memperteguh rasa kebangsaannya. Ibarat kata, tidak lupa pada nasinya (perbaikan kesejahteraannya).[8] “Boekanlah toedjoeankoe menghilangkan bangsa ini dari sifat-sifat jang choesoes dan dari kebudajaannja, tetapi tjoema sekedar membela dan menoendjoekkan hak-hidoep bagi bangsa Hindia,” ucap Cipto kala itu. Namun, seolah sudah ada kebakuan pakem, BO tetap tidak berubah haluan. Pada Oktober 1908, Cipto keluar dari BO.

Sang pembangkang, barangkali itulah julukan yang tepat apabila disematkan kepada pahlawan nasional bernama Cipto Mangunkusumo. Sebagai seorang pembangkang di kalangan kaum pergerakan nasional Indonesia, ia memang terkenal blak-blakan ketika mengekspresikan rasa tidak sukanya terhadap pola hidup bermewah-mewah dan artifisial. Ia benci feodalisme yang masih dianut dan diaplikasikan dengan sangat kuat di kalangan priyayi Pribumi. Ia juga dikenal sebagai salah seorang Bumiputera terpelajar pertama yang mempunyai pendidikan barat terbaik saat itu. Dan sudah terkenal sebagai tokoh pergerakan, jauh sebelum tampil sebagai Wakil Ketua IP (Indische Partij) pada 1912 dan dibuang ke Belanda pada 1913. Ia adalah seorang yang memiliki kesadaran pikir tentang kemajuan Bumiputera dalam kerangka dominasi politik dan subordinasi.

Pembangkang Asal Ambarawa

Biografi tokoh Indonesia satu ini dimulai pada 1886, tatkala istri Mangunkusumo melahirkan seorang bayi yang kemudian dinamai Cipto Mangunkusumo di Ambarawa, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Mangunkusumo adalah seorang guru Bahasa Melayu di sekolah pemerintah untuk bumiputera, yang kemudian diangkat sebagai kepala sekolah dan kemudian naik jabatan menjadi pembantu administratif di Dewan Kotapraja Semarang.[9] Sementara itu, ibunya memiliki garis keturunan seorang tuan tanah di Mayong, Jepara. Meskipun keluarganya bukan tergolong priyayi birokratis yang tinggi kedudukan sosialnya, Mangunkusumo berhasil memberi pendidikan anak-anaknya ke jenjangnya yang tinggi.

Biografi Cipto Mangunkusumo

Bangku pendidikannya dikeyam di ELS (European Lagere School) yang diluluskannya pada 1899. Lepas dari ELS, ia masuk ke STOVIA (School Tot Opleiding voor Indische Artsen) dan lulus tahun 1905. Sewaktu sekolah di STOVIA inilah jiwa dan pikirannya mulai memperlihatkan sikap perlawanan. Dalam dirinya, muncul rasa tidak puas melihat keadaan sekeliling, terhadap susunan masyarakat dengan hubungan yang tidak sehat dan tidak adil.[10] Orang-orang di sekitarnya menilainya memiliki pikiran tajam, jujur, rajin dan berpembawaan kuat. Gurunya mengatakan bahwa Cipto adalah een begaafd leerling (murid yang mempunyai bakat besar). Berbeda dengan rekan-rekan satu sekolahnya yang cenderung mulai meniru-niru gaya hidup Belanda yang menyukai pesta dan main bola bilyard, akan tetapi Cipto sebaliknya. Ia tidak menyukainya.

Tidak seperti kebanyakan jebolan sekolahan pada zaman sekarang, yang menggantung buku dan penanya selulus sekolah, Cipto justru sebaliknya. Ia seperti kebanyakan para tokoh pergerakan lainnya (Soekarno, Mohammad Hatta, Muso dan lain sebagainya), sangat gemar baca buku, menulis, menghadiri seminar-seminar dan penghobi catur. Ketertarikannya ada dalam dua hal, menjadi seorang penulis dan dokter. Karena secara dengan menulis, ia sadar bisa menyebarkan gagasannya yang mampu memberikan pendidikan bagi banyak orang dari berbagai kepalsuan hidup. Juga dengan menulis, ia bisa berkelahi membela nilai-nilai kemanusiaan tanpa harus berbaku hantam.[11]

Ditilik secara penampilan, ia memang terlihat eksentrik. Pada masa itu para murid sekolah STOVIA diwajibkan mengenakan pakaian daerahnya masing-masing. Tetapi Cipto lebih memilih baju Kromo sebagai ciri khasnya. Dengan pakaian itu, ia memang nampak dekil dan kumal, rambutnya yang gondrong, nampak keluar dari songkoknya, sambil berjalan-jalan mengepul-ngepulkan asap rokok kretek. Selepas dari STOVIA, secara berturut-turut dia bekerja sebagai Indische Arts (Dokter Jawa) pada dinas Pemerintah Daerah Banjarmasin. Setahun ia bekerja di sana, kemudian ia dipindahtugaskan ke Demak dari 1906 hingga 1909.

Bermula lewat kalam, pada 1907, Cipto mulai menajamkan gagasannya melalui suratkabar liberal di Semarang, De Locomotief.[12] Lewat suratkabar inilah ia kemudian kerap mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial yang menyelewang. Sudah merupakan peraturan pada masa kolonial, apabila seorang pegawai negeri tidak diizinkan menulis di suratkabar. Kecuali masalah yang ditulisnya berkenaan dengan pekerjaannya. Akan tetapi ia begitu cinta tulis-menulis hingga lebih memilih keluar dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah, untuk kemudian menekuni diri dalam dunia jurnalistik. Inilah akhir karirnya sebagai dokter pemerintahan, meski kemudian tetap membuka praktek sebagai dokter partikelir di Solo. Sekira tahun 1910-an, Cipto menjadi dokter sukarelawan untuk dikirim ke daerah Malang, tempat berjangkitnya wabah pes.[13] Oleh karena itu, dia diganjar dengan bintang kehormatan Ridder in de orde van Oranje-Nassau (pahlawan dalam barisan Oranje-Nassau).[14] Tapi gelar itu justru diletakkan di pantat, untuk mengejek yang memberinya, yaitu pemerintah kolonial, ke manapun ia pergi.

Cipto dan Pembuangan

Sesungguhnya, tokoh biografi pahlawan nasional ini tak membenci dan menolak kebudayaan Jawa, yang dibencinya hanya kebudayaan kraton yang feodal dan jiwa kerdil para priyayi Jawa kolot anti perubahan. Keterlibatannya dalam politik pergerakan secara dalam, dimulainya sekeluar dari BO. Ketika itu dia segera bergabung dengan Douwes Dekker—yang dianggap sebagai soko guru jurnalistiknya, di harian De Expres[15] dan Het Tijdschrift. Dan ketika didirikan IP, pada 5 Oktober 1912, ia didaulat menjabat Wakil Ketua. Usia IP tak lama, karena IP bertujuan menuju Hindia untuk bangsa Hindia.[16] Organisasi ini dianggap terlalu radikal, setahun kemudian (31 Maret 1913)—tanpa restu para pendirinya, pemerintah membubarkan IP secara paksa. Namun orang-orang yang bernaung di bawahnya tidak berhenti bergerak, khususnya tiga serangkai. Sebelum dibubarkan, mereka sempat mengubah IP menjadi Insulinde, dengan kongresnya yang pertama di Semarang pada 21-23 Maret 1913.[17] Kongres itu tergolong sukses menjaring massa.

Pada awal Juli 1913, atas prakarsa empat orang, yaitu Cipto Mangunkusumo, R.M. Soewardi Soerjaningrat, Abdoel Moeis dan A.H. Wignjadisastra, didirikan Panitia untuk Peringatan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda disingkat Panitia Bumiputera. Tujuannya menarik perhatian umum, melancarkan suara yang mengecam kebijakan pemerintah, khususnya kolonialen raad (Dewan Jajahan), yang dinilai tidak layak dijadikan wakil rakyat.[18] Panitia ini meradang dan menerjang pemerintah kolonial, lewat sebuah brochure yang ditulis Soewardi Soerjaningrat bertajuk Als Ik Eens Nederlander Was... (Seandainya Saya Seorang Belanda). Tulisan ini jelas membuat pemerintah kolonial geram. Lihat saja kata-kata Soewardi yang tajam menampar muka pemerintah, sebagai berikut:
“...Seandainya saya orang Belanda, belum tentu saya berani berbuat segala-galanya. Memang, saya akan berharap agar pesta-pora hari kemerdekaan itu diselenggarakan semeriah mungkin, akan tetapi saya tidak ingin kaum pribumi di daerah-daerah ini turut serta dalam perayaan HUT tersebut, akan saya larang mereka turut bersuka-cita dalam perayaan-perayaan itu, bahkan tempat berpesta-pora ingin kupagari, agar orang-orang pribumi tidak dapat melihat sedikit pun kegembiraan kami yang meluap-luap dalam memperingati hari kemerdekaan itu.”[19]
Brochure itu dicetak di percetakan Eerste Bandoengsche Publicatiemaatschapij (Perusahaan Penerbitan Bandung Pertama), penerbit De Expres. Pada 20 Juli 1913, empat orang pemrakarsa Panitia Bumiputera, diminta untuk menghadap Officier van Justitie (Jaksa Tinggi) untuk ditanyai-tanyai. Tujuan pemeriksaan itu untuk menyelidiki, apakah brochure yang ditulis dengan nada sinis itu mempunyai maksud menghasut orang-orang, dengan pelanggaran seperti yang dimaksudkan dalam pasal 26 peraturan percetakan (drukpersreglement). Pada waktu itu mereka belum ditangkap, ketika dilepaskan Cipto melepas sebuah artikel berjudul “Kracht of Vrees” (Kekuatan atau Ketakutan), sedangkan Soewardi melepas sebuah artikel berjudul, “Een voor Allen, Allen voor Een” (Satu untuk Semua, Semua untuk Satu). Dua artikel itu dimuat di De Expres tanggal 26 dan 28 Juli 1913. Berikut petikan “Kracht of Vrees”:
“Apakah rasa takut yang mendorong orang-orang itu untuk menghancurkan pengaruh kita?
Bila benar demikian, maka penyitaan itu merupakan suatu kehormatan terhadap sekretaris kami. Di situ terbukti bahwa... (tulisan kritik yang pedas dan meracau Soewardi Soerjaningrat)... tidak dapat kita abaikan begitu saja... Seorang di antara para “jiwa paria”... akhirnya telah bangkit dan mengundang penghargaan orang dengan tulisannya yang arahnya tak menentu itu, yang telah menggerakkan massa kaum pribumi yang besar, lamban dan bersifat masa bodoh itu. Bagi bangsa Belanda hal ini tentu tidak menggembirakan!”[20]
Sebenarnya, atas anjuran ayahnya, Cipto telah diminta keluar dari Panitia Bumiputera, karena panitia itu telah menghebohkan masyarakat. Namun Cipto dengan keteguhan hatinya mengirimkan jawabannya melalui telegram. “Tugas saya baru saja dimulai. Selamat tinggal,” demikian isi telegram itu.[21] 

Pada 30 Juli 1913, Pengadilan Raad van Justitie Bandung melakukan pemeriksaan kepada Soewardi Soerjaningrat, Cipto Mangunkusumo, Abdoel Moeis dan Lembana Wignjadisastra. Keempatnya dianggap bertanggungjawab atas beredarnya tulisan-tulisan Soewardi yang dinilai meresahkan masyarakat.[22] Selain dipersalahkan atas artikel kontroversial yang ditulis Soewardi Soerjaningrat, keempat aktivis pergerakan ini dipersalahkan juga dalam kasus penyelenggaraan rapat-rapat gelap yang bertujuan mendirikan lembaga parlemen bagi Bumiputera di Hindia Belanda. Mereka diancam dengan hukuman 1 bulan hingga 1,5 bulan penjara dan denda sebesar f. 100-500.[23] 

Douwes Dekker yang baru saja kembali dari Eropa, seolah merayakan kehebatan Cipto dan Soewardi, dengan artikelnya “Onze Helden: Cipto Mangunkusumo en Soewardi Soerjaningrat”. Artikel itu dimuat De Expres pada 5 Agustus 1913. Pemerintah yang berang dengan tulisan-tulisan heboh yang mengancam fungsionalitas mereka, segera menjebloskan ketiganya dalam penjara. Pada 8 Agustus 1913, pemerintah kolonial mengeluarkan keputusan hukuman yang akan dijatuhkan kepada Cipto Mangunkusumo, Soewardi Soerjaningrat dan Douwes Dekker, atas dakwaan menentang pemerintahan yang sah. Tiga Serangkai pendiri IP itu divonis hukuman inteniran (hukuman buang) ke luar Pulau Jawa.

Namun ada opsi lain yang ditawarkan, ketiganya akan dibebaskan dari jeratan hukum, apabila bersedia pergi ke luar Hindia Belanda untuk masa minimal 30 hari. Mereka akhirnya memilih opsi terakhir, yaitu akan menuju ke Belanda dengan pertimbangan akan lebih bermanfaat.[24] Kemudian, pada 6 September 1913, mereka berangkat ke Belanda melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.[25] Akan tetapi, pada 27 Juli 1914, Cipto bersama Ny. Vogel (istrinya) pulang terlebih dahulu ke Hindia Belanda, karena buruknya kesehatan Cipto di tanah seberang.[26] Mereka sampai di Hindia Belanda pada 22 Agustus 1914,[27] untuk kemudian menetap tinggal di Surakarta. Sekembalinya dari Belanda, Cipto masih terjun dalam ranah politik. Ia masih tetap garang dalam menggalang massa IP, yang telah berubah menjadi Insulinde (1914). Sebagai seorang yang aktif dalam dunia pergerakan yang sudah membuktikan keteguhan hati dengan dibuang, wibawanya jadi tinggi, khususnya di kalangan anggota Insulinde.[28] 

Jelas ini mempengaruhi bergelombangnya massa untuk berduyun-duyun masuk ke Insulinde yang berpusat di Solo. Pada waktu Cipto baru kembali (1914), Insulinde belumlah memiliki massa begitu besar. Cipto segera menerbitkan media propaganda lagi, antara lain Panggoegah dan majalah bulanan Indische Beweging. Namun begitu berada di bawah komando Misbach—seorang yang beraliran Islam-Komunis radikal, Insulinde cabang Surakarta berkembang sangat pesat. Misbach mampu mengakomodir para petani melakukan pemogokan melawan pemerintah melalui artikel-artikelnya yang tajam. Ia juga membuat karikatur yang dimuat 20 April 1919 dalam Islam Bergerak yang menggambarkan penghisapan untuk menggerakkan mereka. Akan tetapi, Cipto bercabang, ia sudah berumur tigapuluh tahun ketika itu, karena itu tak bisa lagi mengikuti keradikalan anak-anak muda yang bersemangat baru itu. Menyusul ancaman Residen Semarang (27 Juli 1916), yang mengusulkan kepada Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum, agar Cipto dibuang ke luar Jawa. Pada 5 Agustus 1916, Cipto Mangunkusumo terpaksa keluar dari hoofdbestuur (Pengurus Tinggi) Insulinde dan berhenti dari hoofdbestuur Der Indier.[29]  

Semasa ini, ia tak lagi berada di pusat kekuasaan Insulinde, ia cari jalan lain lewat jalur resmi yang diciptakan pemerintah kolonial. Pada 1918, pemerintah kolonial membentuk Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), yang para anggotanya dicomot dari orang-orang bangsa Belanda dan Bumiputera. Cipto ditunjuk menjadi wakil rakyat di Volksraad periode 1918-1921.[30] Pada masa Cipto duduk di bangku Volksraad, mulai muncul sejumlah kericuhan. Insulinde, yang dikomandoi oleh Misbach, membesar dan sukar dikendalikan, sekaligus berada dalam keadaan rentan. Cipto yang saat itu menjabat Sekretaris Insulinde Pusat di Semarang, berupaya menengahi keadaan dengan dua jalan yaitu mencoba berdialog dengan para petani dan menyuarakan lewat Volksraad. Akan tetapi semua sia-sia, mogok para petani tetap berjalan. Sekira 600 orang petani yang mengadakan mogok dibubarkan paksa oleh Residen Harloff dengan bantuan polisi. Misbach sendiri bersama 80 orang pemimpin dan anggota kring dipenjarakan. Insulinde Surakarta berantakan.

Kekacauan ini tak berhenti sampai situ saja. Periode 1918-1920, Insulinde yang kemudian berubah menjadi Nationaal Indische Partai-Sarekat Hindia (NIP-SH), menambah deretan di daftar hitam pemerintah kolonial. Puncak dari semua masalah ini terjadi pada 4 Januari 1921, ketika Residen Harloff memerintahkan penangkapan Cipto. Untuk akhirnya divonis hukuman inteniran ke Banda pada 1927 hingga akhir hayatnya. Kata-kata terakhir yang masih sempat ia katakan, “tanggal 8 Maret pemerintah kolonial menyerah. Tanggal itu juga, aku mau menyerahkan diri kepada yang maha kuasa.”[31]

Gagasan Sang Ksatria

Pemikiran Cipto mengenai Hindia Belanda, sebenarnya sangat sederhana. Hal itu adalah adalah mengenai perbaikan kesejahteraan rakyat.[32] Atau dengan kata lain, dari kacamatanya sebagai seorang dokter, perhatian pada pembangunan yang “sehat” bagi negeri ini. Dalam diskusi via surat (19 Januari 1916) dengan sahabatnya yang orang Belanda, ia menyebutkan:
“Obat untuk penyakit apa pun sebenarnya sangat mudah jika penyakitnya diketahui. Dalam kasus kami sekarang semuanya sudah jelas, saya pikir, bahwa (masalahnya) karena kurangnya semangat perlawanan. Budaya Jawa tak membolehkan munculnya kritik terhadap kebijakan pemegang kuasa—sebaliknya, budaya ini mengharuskan kita tunduk tanpa syarat pada pandangan penguasa. Susuhunan, misalnya, boleh menyatakan bahwa ia keturunan Adam dan Arjuna, semata-mata untuk menjadikan dirinya berasal dari sumber yang suci dan hebat, sehingga ia bisa mengontrol kita dan membuat kita merasa sebagai manusia biasa, keturunan Kromo atau Soeto yang tidak akan berhasil dalam setiap pemberontakan. Karena dewa-dewa adalah nenek moyang Susuhunan maka tak perlu dibilang bahwa mereka jelas membela pemegang kuasa ini.”[33]
Pada dasarnya, surat ini bukan sekedar gagasan dari seorang revolusioner yang memiliki latarbelakang sebagai dokter. Kemudian, masih dalam surat yang sama, ia melanjutkan tulisannya:
 “Akan tetapi, izinkan saya kembali menjelaskan obat kami. Saya bisa bilang bahwa itu tak lain adalah pengorganisasian rasa tidak puas, sama seperti yang akan dikatakan De Locomotief. Oposisi harus dilakukan terhadap pemegang kuasa, dengan wajar dan jika mungkin dengan pengetahuan (nyata) tentang hal-hal tersebut. Tetapi, jika terbukti tidak bisa, oposisi demi oposisi terhadap dominasi Belanda, sebab saya pun akan tetap beroposisi jika orang Jawa yang berkuasa. Kamu tahu lebih banyak daripada saya bahwa di dalam BB (Binnenlandsche Bestuur), misalnya, ada pejabat-pejabat yang luar biasa takutnya terhadap kritik yang tajam. Jujur saja, inilah alasan mengapa saya justru melakukannya (yaitu mengekspresikan kritik yang tajam) pada tempat pertama, kedua, dan ketiga. Betapapun, kekhawatiran adalah cara yang baik untuk mencegah terjadinya penyimpangan kekuasaan.”[34]
Bisa dikatakan, sekilas jawabannya sungguh sederhana.[35] Seperti ditulis pahlawan nasional Indonesia ini, ia membicarakan tentang “obat” dan “penyakit”. “Penyakit” yang dimaksudnya adalah “sifat patuh orang Jawa”,  “kurangnya semangat perlawanan (oppositiegeest)”, membuat pemerintah kolonial tidak tahu harus bagaimana dengan koloninya, sehingga membiarkan penyimpangan terjadi. Oleh karena itu, Cipto mengatakan “obat” permasalahan tersebut hanya satu, adalah membangkitkan semangat perlawanan melalui “pengorganisasian rasa tidak puas”, di mana akan membuat mata orang Belanda terbuka. Dalam surat itu terlihat jelas karakter Cipto yang revolusioner.

Dengan melihat model perjuangan Pangeran Diponegoro, Cipto meyakini kemerosotan moral, sebagai sebuah model pembentukan karakter. Dia yakin, menempa orang Jawa menjadi ksatria seperti Diponegoro, melalui sederetan kesulitan dan kerja keras, merupakan “obat” bagi “sifat patuh orang Jawa” dan ia menyebut orang Jawa yang bereinkarnasi menjadi ksatria yang akan menjadi warga Hindia Belanda yang merdeka dan bebas di masa depan.[36]

Namanya Diabadikan sebagai Rumah Sakit

Biografi tokoh Dr Cipto Mangunkusumo selesai ketika dirinya wafat tanggal 8 Maret 1943 di Jakarta. Ia dikebumikan di Watu Ceper, Ambarawa. Demi mengenang jasa-jasa dan pengorbanan beliau, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan berdasarkan SK Presiden RI No 109 Tahun 1964, tertanggal 2 mei Tahun 1964 sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Saat ini, namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di Jakarta.

== Endnote ==

[1] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Pers, 1997, h. 161.
[2] Taufik Rahzen, dkk., Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: I-BOEKOE, 2007, h. 42.
[3] Ibid. Lihat juga Panggoegah, 16 Juni 1919 dan Takashi Shirashi, Op.Cit., h. 238.
[4] Taufik Rahzen, dkk., Ibid.
[5] BO merupakan perhimpunan kebangsaan yang anggotanya terdiri atas para priyayi, para bangsawan ningrat pribumi. Dipelopori oleh anak bangsa lulusan sekolah dokter Jawa, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), BO didirikan pada 20 Mei 1908. Gagasan pendirian BO dirintis oleh Wahidin Soediro Husodo dengan para penggerak perdananya seperti Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Radjiman Wediodiningrat, serta Mangunkusumo bersaudara, Goenawan dan Cipto.
[6] Tim Penulis, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Timur, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978, h. 46-47 dan Pembrita Betawi, 5-7 Oktober 1908.
[7] Pembrita Betawi, Ibid.
[8] Pembrita Betawi, Ibid.
[9] Takashi Shiraishi, Op.Cit., h. 160.
[10] M. Balfas, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Demokrat Sejati, Jakarta: Djambatan, 1952, h. 31.
[11] Ibid., h. 7.
[12] Taufik Rahzen, Op.Cit., h. 44.
[13] Pada 1910 penyakit pes mulai menggejala di Hindia Belanda, namun baru pada April 1911 wabah pes mulai menjangkit hampir ke seluruh wilayah Pulau Jawa. Lihat: Bintang Soerabaia, 12-30 April 1911 dan Pembrita Betawi, 1-31 Mei 1911.
[14] Pitut Soeharto dan A. Zainoel Ihsan, Belenggu Ganas, Jakarta: Aksara Jayasakti, 1982, h. 17. Lihat juga: Perniagaan, 15 Juli 1912.
[15] Pada 1 Maret 1912, De Express terbit untuk pertamakalinya di Bandung. Merupakan sebuah harian berbahasa Belanda yang menyediakan forum guna membahas berbagai masalah politik yang aktual di Hindia Belanda. De Expres juga merupakan corong bagi Indische Partij. Lihat: Pantjaran Warta, 21 Februari 1912 dan Jurnal Nasional, 1 Maret 2007 dan baca: Muhidin M. Dahlan dan AN Ismanto, ed., 1907-2007; Seabad Pers Kebangsaan, Jakarta: I-BOEKOE, 2007, h. 51.
[16] Marwati Djoened, dkk., Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, h, 187.
[17] M. Balfas, Op.Cit., h. 54.
[18] Pitut Soeharto dan A. Zainoel Ihsan, Op.Cit., h. 2.
[19] Ibid., h. 21.
[20] Ibid., h. 28.
[21] Ibid., h. 12.
[22] Proses penangkapan keempat orang ini dilakukan secara besar-besaran. Pemerintah kolonial menyiapkan satu setengah kompi militer, yang ditempatkan ke dalam beberapa seksi. Tugas mereka mengamankan Bandung dari aksi amuk massa pendukung Panitia Bumiputera. Lebih lanjut lihat: Perniagaan, 1 Agustus 1913 dan IS
[23] Perniagaan, 1 Agustus 1913, Ibid.
[24] Pantjaran Warta, 3 September 1913 dan AS, 280.
[25] MCS, 357 dan SJ, 66. Pada 20 November 1913, Pleyte—Menteri Urusan Tanah Jajahan, dalam sidang Tweede Kamer (Dewan Kedua di Belanda) menerangkan bahwa pemerintah kolonial tidak bermaksud untuk membuang tiga tokoh IP itu seumur hidup. Jika keadaan di Hindia-Belanda telah mereda dan pengaruh ketiganya memudar, maka pihak Kerajaan Belanda dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda akan mengadakan perundingan pemberian ampunan kepada ketiganya, lihat: Djawa Tengah, 24 November 1913.
[26] Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta: Kompas, 2000, h. 277.
[27] Ibid., h. 280. Cipto tiba di Surabaya diantarkan Darma Kasoem naik keretapi. Pada 18 Oktober 1914, diadakan pesta penyambutan kedatangan Cipto, yang dihadiri oleh sekira 400 orang anggota Insulinde. Lihat: Tjahaja Timoer, 23 Oktober 1914 dan Sinar Djawa, 20 Oktober 1914.
[28] Takashi shirashi, Op.Cit., h. 162.
[29] Ibid., h. 162-163. Ancaman itu terjadi, pasca Residen Semarang menginterogasi Cipto, waktu memohon mengadakan rapat umum propaganda terbuka Insulinde di Juwana, disertai kekhawatiran Residen atas sepak terjang Cipto yang makin banyak didukung rakyat.
[30] Mengenai penunjukkan Cipto sebagai wakil dari Volksraad, lihat Andalas, 25 September 1917 dan Oetoesan Melajoe, 19 November 1917.
[31] M. Balfas, Op.Cit., h. 41.
[32] Takashi Shiraishi, Op.Cit., h. 164.
[33] J.B. Kristanto, Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: Kompas, 2000, h. 689.
[34] Ibid.
[35] Takashi Shirashi, Op.Cit., h. 164-166.
[36] J.B. Kristanto, Op.Cit., h. 691.

Referensi

I. Buku 

J.B. Kristanto, Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: Kompas, 2000.
M. Balfas, Dr. Radjimani, Sang Demokrat Sejati, Jakarta: Djambatan, 1952.
Marwati Djoened Poesponegoro, dkk., Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta: Balai Pustaka, 1993.
Muhidin M. Dahlan dan AN Ismanto, ed., 1907-2007; Seabad Pers Kebangsaan, Jakarta: I-BOEKOE, 2007.
Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta: Kompas, 2000.
Pitut Soeharto dan A. Zainoel Ihsan, Belenggu Ganas, Jakarta: Aksara Jayasakti, 1982.
Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Pers, 1997.
Taufik Rahzen, dkk., Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: I-BOEKOE, 2007.

II. Koran Sezaman

Bintang Soerabaia, 12-30 April 1911.
Djawa Tengah, 24 November 1913.
Jurnal Nasional, 1 Maret 2007. 
Panggoegah, 16 Juni 1919.
Pantjaran Warta, 21 Februari 1912.
Pantjaran Warta, 3 September 1913.
Pembrita Betawi, 1-31 Mei 1911.
Pembrita Betawi, 5-7 Oktober 1908.
Perniagaan, 15 Juli 1912.
Perniagaan, 1 Agustus 1913.
Sinar Djawa, 20 Oktober 1914.
Tjahaja Timoer, 23 Oktober 1914.
Andalas, 25 September 1917.
Oetoesan Melajoe, 19 November 1917.