Biografi Pangeran Mangkubumi – Pahlawan Nasional Indonesia Ahli Strategi Perang

Orang Yogyakarta mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Pangeran Mangkubumi. Ya, sosok pahlawan nasional satu ini merupakan ikon yang tak bisa dilepaskan dari masyarakat Yogyakarta. Sebab, beliau-lah pendiri dari kota yang dijuluki kota Gudeg tersebut yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Berikut sekelumit biografi tokoh Indonesia ini.

Sri Sultan Hamengku Buwono I terlahir pada 6 Agustus 1717 dengan nama asli Raden Mas Sujana. Dia putra pasangan Amangkurat IV, raja dari Kasunanan Kartasura, dan Mas Ayu Tejawati. Baik Amangkurat IV dan Mas Ayu Tejawati berasal dari trah Brawijaya V.

Sejak dari kecil, Raden Mas Sujana senang dengan kegiatan yang mengandalkan fisik di masanya, seperti berkuda, keahlian memainkan beragam senjata, dan keprajuritan. Keterampilan dan keahliannya ini kelak membuat Susuhunan Pakubuwono II mengangkatnya sebagai pangeran lurah (seseorang yang dituakan) di antara anak-anak raja lainnya. Setelah dewasa, Raden Mas Sujana mendapat gelar Pangeran Mangkubumi.

Konflik Antara Pangeran Mangkubumi dengan Pakubuwono II

Pangeran Mangkubumi, Pahlawan Nasional Indonesia Ahli Strategi Perang

Pada 1740, terjadilah sebuah perlawanan orang-orang Cina di Batavia. Perlawanan ini kemudian menyebar hingga seluruh Jawa. Di awal-awal pemberontakan, Pakubuwono II (kakak dari Pangeran Mangkubumi) ikut memberi dukungan pemberontakan tersebut. Tapi, sewaktu melihat Belanda (dalam hal ini VOC) unggul, Pakubuwono II kemudian berubah pikirannya.

Sekitaran tahun 1742, istana Kartasura diserbu oleh orang-orang Cina yang notabene dicap sebagai pemberontak. Hal ini membuat Pakubuwono II terpaksa memindahkan ibukota kerajaan ke Surakarta. Sementara, pemberontakan tersebut berhasil dibumi hanguskan oleh VOC dibantu Cakraningrat IV dari Madura.

Pun begitu, sisa-sia pemberontak yang berada di bawah pimpinan Raden Mas Said (Keponakan Pakubuwono II dan Pangeran Mangkubumi) berhasil menguasai Sukawati. Selayaknya aturan di masa itu, Pakubuwono II lantas membuat sayembara "barang siapa bisa merebut Sukawati kembali akan diimbali tanah seluas 3.000 cacah. Pada 1746, Raden Mas Said dan pasukan berhasil dikocar-kacirkan oleh Mangkubumi. Sebagaimana perjanjiannya, Mangkubumi meminta haknya atas tanah seluas 3.000 cacah tersebut.

Namun, Patih Pringgalaya menghasut Pakubuwono II untuk membatalkan janjinya. Kondisi ini makin diperkeruh oleh kedatangan Baron van Imhoff (Gubernur Jenderal VOC kala itu) yang mendesak Pakubuwono II untuk mengizinkannya menyewa kawasan pesisir kepada VOC dengan harga 20 ribu real sebagai bentuk pelunasan hutang Keraton terhadap Belanda.

Mangkubumi tidak setuju dengan hal ini. Akibatnya mereka pun berseteru. Puncaknya, terjadi kala Baron van Imhoff menghina Pangeran Mangkubumi di muka umum. Jelas, hal tersebut telah mencoreng mukanya. Atas rasa sakit yang dialaminya, dia menggabungkan diri bersama pasukan Raden Mas Said. Balasannya, Pangeran Mangkubumi menikahkan Raden Mas Said dengan putrinya yang bernama Rara Inten (Gusti Ratu Bendoro).

Selang setahun berikutnya, tepatnya pada 1947, pecahlah perang saudara antara kubu Pakubuwono II yang didukung Belanda dengan kubu Pangeran Mangkubumi bersama Raden Mas Said. Dalam catatan sejarah Indonesia, perang ini dikenal sebagai Perang Suksesi Jawa III. Diperkirakan Pangeran Mangkubumi memiliki kekuatan mencapai 13 ribu pasukan.

Saat pecah perang saudara ini, Pakubuwono II meninggal dunia karena sakit yang sejak lama dideritanya. Sebelum mangkat, beliau menyerahkan kedaulatan kerajaannya secara penuh kepada VOC untuk melindungi Surakarta. Hal ini terjadi tepatnya tanggal 11 Desember. Pihak VOC kemudian mengangkat Pakubuwono III sebagai raja bonekanya. Sementara itu, Mangkubumi juga sudah menobatkan dirinya sebagai raja bergelar Pakubuwono III tanggal 12 Desembernya.

Berdirinya Kasultanan Yogyakarta

Pada 1752, Mangkubumi berselisih dengan Raden Mas Said. Sehingga, keduanya kemudian jalan sendiri-sendiri. Mangkubumi sendiri kemudian mencari VOC untuk diajak bersatu melawan Raden Mas Said, yang lantas diterima tanggal 1754. Di sinilah, terjadi kesepakatan antara Mangkubumi dengan pihak VOC yang diwakilkan oleh Nicolaas Hartingh. Dalam kesepakatan itu disepakati jika VOC membantu Mangkubumi menumpas Raden Mas Said, Mangkubumi akan mendapatkan setengah dari wilayah kerajaan Pakubuwono III. Sementara daerah pesisir akan dikuasai VOC dengan harga 20 ribu real - dibagi dua antara Mangkubumi dengan Pakubuwono III masing-masing mendapat 10 ribu real. Pada 13 Februari 1755, ditandatanganilah perjanjian Giyanti yang membagi wilayah kerajaan Pakubuwono III menjadi dua.

Sejak kesepakatan itu, Yogyakarta menjadi sebuah kerajaan sendiri yang berdaulat. Di mana, Pangeran Mangkubumi didaulat menjadi raja yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Beliau-lah yang kemudian meletakkan dasar-dasar pemerintahan di Kasultanan Yogyakarta. Di samping itu, sisi jiwa seni beliau dituangkan ke dalam beberapa bangunan-bangunan bersejarah, seperti Taman Sari dan Keraton. Sekarang bangunan-bangunan ini sudah menjadi tempat wisata di Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I dianggap sebagai raja terbesar dari trah Mataram pasca Sultan Agung. Beliau wafat pada usia 75 tahun, tepatnya pada 24 Maret 1792.

Pangeran Mangkubumi merupakan sosok pemimpin ahli strategi yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Untuk menghargai jasa-jasanya, maka Pemerintah Indonesia melalui Kepres No. 85/TK/2006 tertanggal 3 November 2006 menganugerahinya gelar pahlawan nasional Indonesia.

Referensi

I. Buku
Mirnawati, Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap, Jakarta: Cerdas Interaktif, 2013.

II. Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_I
http://365ceritarakyatindonesia.blogspot.com/2014/02/pangeran-mangkubumi-pahlawan-nasional-indonesia-ahli-strategi-perang.html

Biografi Haji Mohammad Misbach – Penulis Api di “Ladang” Petani

“Kita wajib membikin peraturan guna membongkar fitnah, tanpa memandang apa bangsa dan agamanya.”[1] – Mohammad Misbach

Misbach berseru kepada kaum Muslim untuk fisabillilah melawan penindasan. Rentang waktu antara bulan Desember 1918 hingga 7 Mei 1919, Misbach membikin tulisan-tulisan provokator, mencoba menggerakkan kaum Muslimin, dalam hal ini petani. Tulisannya mengajak massa petani bersatu-padu menggalang kekuatan lewat Insulinde, organisasi radikal lanjutan IP (Indische Partij), dengan memegang teguh hukum yang mampu merukunkan umat manusia, yaitu hukum Tuhan (Al-Quran). Untuk selanjutnya bergerak bersama-sama menantang penindasan melawan pemerintah.

Tulisan Api, Menyulut Petani

Haji Mohammad Misbach terkenal dengan tulisannya yang berapi-api. Hingga sepercik api yang disulutnya mampu melecut bara semangat di dada petani, kaumnya para kromo. Tekanan-tekanan yang diberikan pihak penguasa terhadap rakyat Hindia sangat berat. Misbach yang merasa batinnya terpanggil, ingin melihat sesamanya mendapatkan kebebasan. Tidak digencet pihak manapun.

Setelah aktif di kancah perpolitikan, dengan mendirikan IJB (Indlandsche Journalist Bond) pada 1914 bersama Marco Kartodikromo, Misbach mulai melontarkan pikiran-pikirannya lewat tulisan. Apalagi usai mendirikan koran pertamanya, Islam Bergerak, pada 1915.

Walaupun dikenal sebagai tokoh islam yang mubaligh, Misbach juga dikenal sebagai orang yang getol mensinkretismekan Islam dengan Komunis. Dua ideologi yang sama sekali berlainan itu menjadi kekuatan yang menyatu di tangan Misbach. Itu sebabnya, tulisan-tulisannya kerap diwarnai warna Islam. Bahkan gaya penulisannya hampir-hampir mirip dengan gaya seorang mubaligh.

Salah satu petilan tulisan api, dimuat di Islam Bergerak pada 10 Maret 1919, yang dipakainya dan bertujuan mengajak petani melawan bisa kita lihat di bawah ini:

Nah! Sekarang telah nyatalah perintah Tuhan, kita orang diwajibkan menolong kepada siapa saja yang dapat penindasan, hingga mana kita berwajib perang juga jika penindasan itu belum dihentikannya.

Ini tulisan dimuat dalam Islam Bergerak. Perintah berperang ini lantas disambung dengan perintah kepada para petani untuk berbaris rapi demi menggalang kekuatan. Memegang wet (hukum) yang mesti terpakai oleh sekalian manusia di atas hidupnya. Adalah hukum manusia yang didasarkan pada perintah Tuhan, Al-Quran.[2] Jalan yang bisa ditempuhnya, coba dijelaskan oleh Misbach pada 1918, ketika dia menuliskan kata-kata apinya di Medan Moeslimin.

Politik yang dilakukan di Hindia pada waktu ini, amat tidak mengertikan orang, sifatnya Agama Islam di Hindia kalang kabut, geraknya suara pers dan pergerakan di tanah Jawa amat bertambah-tambah serunya...” kemudian dia menyambung, “Medan Moeslimin... tempat berdiskusi yang aloes... cuma saja suara kita sekarang terpaksa tidak bisa halus bagai talingan Regeering... sedang adanja penindasan malah bertambah banjak dan berat.” Dan, seolah-olah sedang bertabligh, dia melanjutkan kata-kata apinya, “...jikalau Bumiputra bersatu, Agama Islam sudah tentu menjadi kuat. Dan tidak mudah dihisap darahnya. Dari itu, yang anti kita lantas akan membikin akal buat menipu daya supaya Bumiputra jangan satu Agama Islam.

Agar mendapat keabsahan dan menguatkan kata-katanya, tak urung pula dinukil ayat-ayat Al-Quran.

Benarkanlah barang yang benar, kelirukanlah barang yang keliru, kendati orang yang keliru itu membenci kepadamu.

Kata-kata Misbach ini ada di dua artikelnya yang terkenal. Masing-masing berjudul, “Orang bodo djoega machloek Toehan, maka fikiran jang tinggi djoega bisa didalam otaknja” dan “Seroean kita”. Artikel tersebut merupakan buah refleksi kritis pemikiran Misbach, terkait kondisi kaum petani. Artikel itu usil menyentil para penghisap kapitalis, Residen Surakarta, Pakubuwono X, dan apa yang dia tuduh sebagai “Islam Lamisan”.

Misbach juga mengungkit omongan yang dikatakan regeering. Disebutnya omongan itu omong kosong. Karena katanya regeering itu mau memproteksi rakyat, tetapi tanpa sebuah bukti. Misbach menyebutkan, Pemerintah Kolonial hanya mau memproteksi kaum kapitalis, akan tetapi membiarkan para petani berkorban.

Dalam menyampaikan risalah, Misbach terkenal berapi-api. Semangat ini, yang barangkali saja benar, mampu menular kepada rakyat pada zaman itu. Memang benar Misbach memiliki ciri berbeda dengan seorang yang juga keras dalam masa pergerakan, Cipto Mangunkusumo, yang langsung mencucuk hidung Pemerintah Kolonal menunjukkan kesalahannya.

Ketika Misbach ingin menggoyang pemerintah, ia berupaya membawa serta petani. Menggugah kesadaran mereka lewat Islam. Petani-petani dibuat supaya melihat kondisi mereka. Setelah terjadi saling pengertian, pengaruh kata-kata Misbach meresap, kekuatan baru bisa dibangun. Kemudian dikumandangkanlah kata: Perlawanan!

Biografi Haji Mohammad Misbach – Penulis Api di “Ladang” Petani

Strategi Potong Kepala Ular

Tidak dapat dipungkiri memang bahwa Misbach memiliki kepandaian menggalang massa. Sebagai orang pergerakan, jurnalis dan propagandis, tokoh Islam satu ini tidak ngedon di dalam kamar saja. Memprovokasi petani tanpa tahu kondisinya, sama halnya berkata-kata kosong. Dengan dasar inilah, Misbach bergiat aktif di lapangan. Dalam catatan sejarah Indonesia, rentang enam bulan, Desember 1918 hingga 7 Mei 1919, Misbach memimpin sedikitnya sebelas rapat Insulinde di desa-desa Surakarta—Kartasura, Banyudono dan Ponggok. Di mana enam di antaranya merupakan rapat pengukuhan kring-kring Insulinde[3].

Kesempatan itu dipakai untuk mengumpulkan dan memobilisasi petani. Dia kerap menyebutkan kata-kata “Djangan Koeatir”. Dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran, dia menjabarkan contoh-contoh yang telah dilakukan Nabi Muhammad sekaligus menegaskan tujuan Insulinde, yaitu kebebasan negeri kita. Puncak semua itu terjadi tepat pada 23 Februari 1919, yang mana, hari ini, kuli-kuli kenceng Nglungge mengadakan mogok untuk menuntut tiga hal: pertama, wajib ronda dan patroli desa serta negara harus dikurangi; kerja wajib memelihara jalanan umum harus dibayar, dan meminta agar pejabat desa juga melakukan kerja wajib.

Awalnya aksi mogok ini dibiarkan berlalu begitu saja oleh pemerintah, seolah-olah tak merasa terganggu dengan itu semua. Namun, tiga bulan pasca pemogokan, tepatnya tanggal 19 April 1919, Residen Surakarta mengirim seorang controleur (pengawas) urusan pertanian dan regent polisi (kepala polisi) Klaten ke Nglungge. Punggawa-punggawa pemerintah tersebut memberikan peringatan kepada petani yang mogok, dan mengatakan bahwa tindakan mereka ilegal. Meskipun demikian, saat itu, tak seorangpun dari mereka digulung.

Selang beberapa hari kemudian, kenyataannya berbalik, enam orang pemimpin kring yang didakwa melakukan aksi ilegal tersebut diciduk pemerintah setempat. Kejadian ini membuat Misbach tersulut. Pada 27 April 1919, dia menyerang penguasa yang telah menangkap para pemimpin kring kemudian menyuruh para petani terus mogok. Menghadapi serangan Misbach, pemerintah juga tak tinggal diam. Tiga hari kemudian, digelarlah serangkaian persidangan kasus enam para pemimpin kring. Persidangan ini dibuka di Landraad (Pengadilan Negeri) Klaten.

Ketika persidangan digelar, tak kurang dari 180 orang petani datang, dan menuntut pembebasan enam pemimpin mereka. Alih-alih berhasil, pihak berwenang kolonial malah menangkap empat orang petani yang memimpin 180 orang ini. Termasuk Soemoloekito—Ketua kring Gawok, dan putra Pak Ngabid. Kemudian para petani dibubarkan secara paksa. Usai peristiwa itu, pemogokan di Nglungge padam di pertengahan Mei 1919.

Pun demikian, bara dalam sekam tetap menyala dan membakar sekam bagian bawah. Pemogokan di Nglungge memang lenyap, namun itulah awal dari pemogokan-pemogokan selanjutnya yang menyebar ke lain tempat. Bahkan pemogokan-pemogokan ini mulai berani menyabotase prapat[4].

Kali ini Misbach turun tangan. Dia, untuk pertama kalinya, mendapat kepercayaan diri unjuk muka di depan massa. Dan terang-terangan menyatakan diri akan menyerang pemerintah pada 23 April 1919. Pada mulanya, propaganda yang dilakukan Misbach memang berlangsung “malu-malu” sehingga tidak menyinggung-nyinggung pranatan keraton yang mengharuskan kerja wajib bagi petani atau mengajak petani mogok. Setelah kejadian-kejadian yang sudah melebar, pada akhirnya Misbach harus menyinggung pranatan keraton ini, yang mana merupakan urat sensitif petani. Tersenggol urat sensitifnya, awal Mei 1919, massa 17 desa bergabung. Total massa mencapai angka 20.000 orang. Mereka ini yang kemudian mogok di Perkebunan Tegalgondo. Menuntut kenaikan glidig.

Tak ayal pemerintah kalang kabut menghadapi kondisi yang sudah tak mampu dikendalikan. Untuk menghentikannya, pemerintah harus memakai taktik potong kepala ular. Dengan taktik potong kepala ular, tubuh ular akan mati. Pada 7 Mei 1919, Residen A.J.W. Harloff mengadakan sidang darurat dengan Asisten Residen Surakara dan Boyolali, controleur urusan pertanian, dan regent polisi untuk membicarakan langkah yang tepat mengatasi pemogokan petani.

Sidang darurat yang diadakan Residen A.J.W. Harloff, menyimpulkan bahwa kepala dan otak pemogokan ini harus ditangkap. Pada hari yang sama pula Misbach, Darsosasmita, Gatoet Sastrodihardjo (Sekretaris Insulinde Surakarta) bersama 80 orang pemimpin dan anggota ditangkap. Tuduhannya mendalangi dan mengorganisir pemogokan secara sistematis.

Koesoen, seorang hofdredacteur (Pemimpin Redaksi) dan propagandis utama SATV, menulis pembelaannya terhadap Misbach di Islam Bergerak. “Mereka—Misbach, Darsosasmito, dan lainnya—dipenjara bukan karena merampok, mencuri, menodong, membunuh atau menipu, tetapi justru karena mereka melawan pihak yang bertindak sewenang-wenang atau tepatnya, bandit-bandit yang selalu mengganggu kesejahteraan umum,” demikian sebut Koesoen. Para aktivis SATV memang melihat Misbach sebagai mubaligh sejati yang mempropagandakan Islam tidak dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan perbuatan.

Penangkapan itu tak lama, tanggal 22 Oktober 1919, Misbach dibebaskan. Hal ini bermula saat Insulinde, yang sudah berganti nama lagi menjadi NIP-SH (Nationaal Indische Partij-Sarekat Hindia), mengadakan rapat umum pada 15 Oktober 1919. Rapat ini, dihadiri 2.000 orang di Surakarta, merupakan rapat pertama sejak Insulinde dilarang mengadakan perkumpulan bulan Juni 1919.

Di hari yang sama, saat sedang berlangsung rapat, Douwes Dekker dibebaskan Raad van Justitie (Dewan Pengadilan) Semarang. Alasan pembebasannya menjadi penting dan dipakai juga untuk membebaskan Misbach seminggu setelahnya. Dekker dituntut lantaran sudah menyulut aksi-aksi kriminal di Polanhardjo berdasarkan pasal 102 hukum pidana Hindia. Raad van Justitie menyatakan, pasal tersebut tidak berlaku di daerah Voorstenlanden. Dan Surakarta termasuk empat dari daerah vorstenlanden yang ada di Jawa.

Pesta sambutan untuk merayakan kebebasan Misbach, digelar NIP-SH Surakarta dari malam ke malam. Banyak orang hadir dalam pesta meriah ini. Tak lama sesudah pembebasannya. Misbach menggantikan Ny. Vogel sebagai pemimpin NIP-SH Surakarta. Meski berhasil dibebaskan, toh pada akhirnya karir politik Miscbah harus tamat juga. Memang beberapa waktu ke depan pasca pembebasan ini ia masih bisa bergiat dalam panggung politik Hindia Belanda. Gayanya masih sama, meminjam istilah Remy Silado, Mbeling.

Gara-gara ke-mbeling-an ini, ia kerap bolak-balik masuk penjara dan dianggap sebagai pengganggu keamanan dan ketertiban. Pungkasnya terjadi, tanggal 20 Oktober 1923. Pemerintah yang gerah menuduhkan padanya tuduhan-tuduhan yang lebih berat ketimbang hanya sebagai pembuat onar, yaitu  keterlibatannya dalam sejumlah aksi revolusioner (pembakaran bangsal, penggulingan keretapi dan pemboman).

Beberapa aksi spektakuler yang merebak di sejumlah kota pertengahan Oktober 1923, ialah untuk kali pertamanya, ijazah-ijazah Sekolah Bumiputera Ongko Loro dibakari; bulan Mei 1923 Gubernur Jenderal yang datang ke Yogyakarta naik kereta dilempari bom; banyak orang memberanikan diri melempar kotoran ke kantor-kantor pemerintah, mencopoti potret Ratu Wilhelmina dan melumurinya dengan kotoran dan kalimat celaan.[5] Kejadian-kejadiannya sendiri meningkat drastis menjelang peringatan ulangtahun Ratu Wilhelmina akhir Agustus dan awal September.

Di kota-kota Jawa Tengah dan Timur juga banyak merebak kekisruhan. Di Yogyakarta, bulan Juli 1923 sebuah keretapi tergelincir dari relnya. Di Madiun, akhir Agustus 1923 seorang aktivis Sarekat Ra'jat (SR) dan bekas buruh keretapi pemerintah ditemukan mati dan lainnya terluka, ketika bom buatan mereka meledak tiba-tiba. Di Semarang, dari Agustus sampai September sedikitnya delapan bom telah dilemparkan di muka publik. Di Surakarta, pertengahan Oktober 1923, menjelang dan sesudah perayaan Sekaten, sejumlah rumah dibakar. Bangsal perayaan sekatenan dirobohkan orang. Di pedesaan, tempat pengeringan tembakau dibakar.

Darma Kanda, media yang menyuarakan aspirasi kaum ningrat mengingatkan bahaya "zaman Tjipto" (Tjipto Mangunkusumo). Para pangeran kasunanan dan pejabat tinggi ketakutan pada "komunis-komunis" mulai menebar cerita dan mengatakan Haji Mohammad Misbach berada di balik serangkaian kejadian itu. Misbach disebut-sebut telah membangun "pasukan sabotase", melatih prajurit untuk melakukan pengeboman, pembakaran rumah, perampokan, penggelinciran kereta api, dan aksi teror lainnya. Pada awal Oktober pamflet stensilan dengan simbol palu dan arit di atas gambar tengkorak manusia disebarluaskan orang-orang tak dikenal. Pamflet itu isinya mengingatkan orang agar tidak menghadiri perayaan sekaten.[6]

Serangkaian kejadian yang terjadi di Jawa itu menjadi sebuah alasan yang cukup kuat bagi pemerintah untuk mengkambing-hitamkan Misbach. Gerak Misbach memang harus dipatahkan agar borok masyarakat tidak menguar kemana-mana. Dan strategi potong kepala ular rupanya cukup ampuh untuk mematahkan gerak Misbach selanjutnya.

Bagi tokoh pejuang Indonesia, hal yang paling menakutkan adalah hukuman buang. Sebab, hukuman ini akan memutus hubungan antara kerabat-kerabat yang dikenal, tersiksa ketika menjalaninya dan juga kerentanan penyakit. Seperti sewaktu Soekarno harus menjalani hukuman buang ke Ende, Flores.[7]

Dan tampaknya hal yang paling belakangan yang sungguh menakutkan bagi Misbach. Ketika divonis harus menjalani hukuman buang di Manokwari, Papua, ia dijangkiti malaria—penyakit yang menjadi momok bagi penduduk Hindia Belanda saat itu, karena kotornya tempat-tempat hunian manusia. Di sanalah biografi tokoh Haji Mohammad Misbach berakhir. Kesan yang dapat ditangkap adalah bahwa seorang yang mampu menggoyang pemerintah kolonial tetap harus melakoni takdirnya sebagai seorang manusia biasa.

Sekelumit tentang Biografi Tokoh Nasional Misbach

Pengetahuan kita tentang biografi tokoh Indonesia satu ini sangat amat terbatas. Data-data yang berhasil dicatat dan disajikan hanyalah sebuah potret kecil dari hidupnya yang demikian besar. Haji Mohammad Misbach dilahirkan pada 1876 di Kauman, Surakarta, dari keluarga pedagang batik sukses. Namanya waktu kecil Achmad. Namanya waktu menikah Darmodiprono. Dan namanya setelah naik haji Mohammad Misbach.

Dia bukan dari kalangan keluarga Islam kuat – tentunya juga bukan berasal dari tokoh Islam dunia. Hanya saja lingkungan tempat tinggalnya yang berada di lingkungan pejabat keagamaan kraton, mendorong Misbach masuk ke dalam dunia pesantren. Dia hampir-hampir tak tersentuh pendidikan barat. Sekolah bentukan Belanda yang sempat dikeyamnya saja hanya sampai Sekolah Bumiputera Pemerintah Ongko Loro. Itu pun cuma kuat dilakoni delapan bulan.

Dunia dagang menjadi pelabuhan hati pertama dalam mencari sesuap nasi. Begitu mengenal politik dan masuk SI (Sarekat Islam) dan IJB (Inlandsche Journalisten Bond)[8] sebagai Sekretaris, ia langsung kesengsem. Karena berbakat, namanya bisa cepat mencuat. Terutama setelah aktif di organisasi TKNM (Tentara Kanjeng Nabi Muhammad) sebagai salah seorang donatur. Dia pula yang mempelopori pendirian SATV (Sidik Amanah Tablig Vatonah) dan sekolah Ze School Met Der Qur’an.

Pada masa pergerakan, suratkabar-suratkabar mulai tumbuh bak cendewan di musim hujan. Seakan tak mau ketinggalan, Misbach turut menerbitkan suratkabar, Medan Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917). Yang pada awalnya didirikan digunakan untuk merespon suratkabar Kristen Mardi Raharjo, namun dalam perkembangan selanjutnya menjadi salahsatu media massa berpengaruh. Media inilah yang dipakai Misbach meracik pikiran-pikirannya dalam menentang Belanda.

Dan kekerasan hati yang dimilikinya membuat segan kawan dan lawan. Misbach adalah sesosok manusia yang sudah dengan berani menentang kekuasaan kolonial dengan cara dan kekuatan yang dipunyainya. Jauh sebelum meninggalnya, Tjipto, pernah melukiskan keberanian itu dalam sebuah artikel, dimuat di suratkabar Panggoegah 12 Mei 1919. Sebagai seorang ksatria sejati (Misbach) mengorbankan hidupnya demi pergeliatan pergerakan Bumiputera. Ia pejuang yang semata-mata berjuang karena terpanggil memenuhi kewajibannya sebagai makhluk Tuhan.

Marco Kartodikromo, kawan seperjuangan Misbach pernah pula menggambarkannya. Misbach adalah tokoh yang senantiasa membumi. Dia dapat berbaur dengan kalangan anak muda, di samping juga tidak suka membeda-bedakan siapapun, baik itu kupu-kupu malam, pencuri, orang berpangkat maupun orang-orang dari seluruh kalangan. Pun demikian sosoknya tetap memiliki wibawa tinggi. “Misbach seperti harimau di dalem kalangannya binatang-binatang kecil. Karena dia tidak takut lagi mencela kelakuannya orang-orang yang sama mengaku Islam tetapi selalu menghisap darah teman hidup bersama,” kata Marco.

Dua Jalan Menyatu: Islam-Komunis

Dua mata tombak yang seringkali disinggung-singgung Misbach dalam tulisan-tulisannya adalah Islam dan Komunisme. Bagi Misbach, Islam dan Komunisme adalah harmonisasi yang ideal. Islam tak selalu harus dipertentangan dengan Komunis. Malah sebaliknya, melalui Komunis-lah, Islam menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.

Menurut Nor Hiqmah, pertentangan kedua terminologi ideologi itu terjadi pada tataran politis. Selanjutnya serangkaian peristiwa menguatkan argumen tersebut. Bahkan lebih jauh dipertentangkan dalam hal penghayatan tentang ketuhanan, yang kemudian dipersempit dengan terminologi “agama”[9] hingga sekarang.

Dan sintesis tentang Islam-Komunis itu kemudian dijelentrehkan Misbach dalam artikel yang diberinya judul “Islam dan Komunisme”. Artikel ini sekaligus merupakan pembelaan Misbach demi menangkis serangan kaum putihan, yang memandang bahwa Komunisme bertentangan dengan agama. Berikut potongan artikel tersebut:

Hai Saoedara-saoedara ketahoei! Saja saorang jang mengakoe setia pada Agama dan djoega masoek dalam lapang pergerakan kommunist dan saja mengakoe djoega bahoea tambah terboekanja fikiran saja di lapang kabenaran atas perintah agama Islam itoe, tidak lain jalan dari sasoedah saja mempelajari ilmoe komminisme, hingga sekarang saja berani mengatakan djoega, bahoea kaloetnja kesalamatan doenia ini tidak lain hanja dari djahanam kapitalisme dan imperialisme jang berboedi boeas itu sahadja, boekannja kesalamatan dan kemerdekaan kita hidoep dalam doenia ini sadja, hingga kepertjajaan kita hal agama poen beroesaha djoega olehnja.[10]

Misbach berkeyakinan total bahwa agama dan politk memiliki benang merah yang mengikat. Dalam agama, manusia diperintahkan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, kemanusiaan, di mana hal tersebut hanya dapat diwujudkan lewat politik. Karena itulah, siapa saja yang ingin berjuang menegakkan agama, harus masuk dalam pergerakan dan melawan sistem busuk yaitu kapitalisme. Bagi Misbach, dan bagi kalangan komunis, sistem kapitalisme memakan sifat-sifat alamiah manusia. Sistem itu pula yang menindas manusia, penghambaan manusia terhadap materi, dan akhirnya menjauhkannya dari agama.

Sementara, dalam pandangan Misbach, Komunis betul-betul memperjuangkan masyarakat kelas bawah (kromo). Islam sendiri memerintahkan untuk menolong kepada yang lemah, dalam hal ini yang tertindas (masyarakat bawah). Dan baginya, partai atau orang yang mengaku-aku Islam tetapi menghalang-halangi rakyat untuk masuk dalam politik sama halnya dengan munafik, atau dalam istilah Misbach sendiri, Islam lamisan.

==Catatan kaki==
[1] “Semprong Wasiat: Partijdisciplin SI Tjokroaminoto Mendjadi Ratjoen Pergerakan Rak’jat Hindia,” Medan Moeslimin, September 1923. Baca Nor Hiqmah, H. M. Misbach; Sosok dan Kontroversi Pemikirannya, Yogyakarta: Yayasan Litera Indonesia, 2000, h. 9.
[2] Takashi Shirashi, Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Press, h. 201.
[3] Takashi Shirashi, Ibid., h. 204.
[4] Prapat adalah lembaga tradisional untuk menengahi pertikaian antar kepentingan di pedesaan Surakarta, terutama antara pihak petani dan perkebunan, sekaligus untuk menunjukkan kekuasaan negara. Takashi Shirashi, Ibid., h. 231.
[5] Iqbal Setyarso, Majalah Panji Pustaka, No. 09 Tahun IV - 21 Juni 2000.
[6] Ibid.
[7] Untuk keterangan ini baca di Reni Nuryanti, Biografi Inggit Ganarsih, Yogyakarta: Ombak, 2006. Khususnya di bab pembuangan di Ende, Flores.
[8] IJB didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo pada 1914. Organisasi jurnalistik se-Hindia Belanda ini sempat vakum selama lima tahun. Dan diaktifkan kembali pada 8 Maret 1919. Susunan pengurusnya waktu itu adalah Dr. Cipto Mangunkusumo (ketua), H. Mohammad Misbach (sekretaris), Hardjasoemitra (bendahara), Sosrokardono, Semaoen, H. Agoes Salim, Darnakoesoemah sebagai komisaris. Baca: Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah, Franz Fanon  Foundation, tt, hlm. 46-47.
[9] Nor Hiqmah, H.M. Misbach; Sosok dan Kontroversi Pemikirannya, Yogyakarta: Yayasan Litera Indonesia, 2000, hlm. 36-40. Khususnya: bab 3: Islam dan Komunisme Menurut H.M. Misbach di sub bab 3: Islam Versus Komunisme.
[01] Ibid., hlm. 41-42.

***

Referensi

I. Buku

Nor Hiqmah, H. M. Misbach; Sosok dan Kontroversi Pemikirannya, Yogyakarta: Yayasan Litera Indonesia, 2000.
Takashi Shirashi, Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Press, 1997.
Taufik Rahzen, dkk., Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: I-BOEKOE, 2007.
Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah, Franz Fanon  Foundation, tt.

II. Internet

batarahutagalung.blogspot.com

Biografi Cipto Mangunkusumo

Cipto berulah, melakukan gebrakan mengejutkan menentang kemapanan Kraton Surakarta, pusat feodalisme Jawa. Pada 1909, dengan seenaknya ia berkendaraan berputar-putar di alun-alun Kraton Surakarta. Padahal menurut kebijakan kraton, hanya kereta Sunan dan para bangsawan saja yang diizinkan berkendaraan di situ[1]. Tak ayal tingkahnya itu secara telak telah menohok muka kraton dan para priyayi kolot anti-perubahan.

Ulah itu merupakan hantaman pertama yang dilakukan Cipto terhadap Kraton Surakarta. Sepuluh tahun kemudian, ia melancarkan kembali hock keras kepada Kraton Surakarta lewat suratkabar. Pada 9 Juni 1919, Cipto menulis sebuah artikel yang dimuat harian Panggoegah[2]. Artikel itu intinya berisi tentang usulan untuk menyuruh Sri Susuhunan Pakubuwono X dan Mangkunegaran VII mundur dari tahta kerajaannya, dengan diberi uang bulanan tetap sebesar f. 2.000. Ia menilai, dua kraton yang kontra-produktif itu, telah membebani rakyat. Tidak sampai di situ saja, pada 16 Juni 1919—sehari setelah mengadakan pertemuan pengurus Insulinde—secara terang-terangan Cipto mengecam bahwa Amangkut II beserta keturunannya merupakan budak-budak daripada feodal VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) berikut penggantinya, negara kolonial Hindia-Belanda.[3] 

Pungkas kecaman ini terjadi pada 19 Juni 1919, melalui harian yang sama, ia mengatakan, “tak bisa disangkal lagi, doea keradjaan itoe memangsa pendoedoeknja, bahwa mereka tak bisa bertahan hidoep tanpa mengisap rakjat sampai ke soemsoemnja, tanpa melonggarkan pajak jang begitoe mentjekik... Saja merasa bahwa segala kemewahan itoe biajanja haroes dibajar dari kantor orang kromo... pada achirnja orang kromo itulah jang haroes ‘menghidoepi’ radja.”[4]

Ia memang sengaja melakukan semua itu, karena jengah terhadap budaya kaum feodal. Kaum yang dipandangnya sebagai kaum kolot anti perubahan. Jauh sebelumnya, ia pernah bertentangan visi dengan Dr. Radjiman mengenai masalah BO[5] (Boedi Oetomo) di kongres perdana BO di Yogyakarta tanggal 3 Oktober 1908.[6] Ketika itu, Dr. Radjiman kukuh berpendapat bahwa BO adalah suatu gerakan yang bersifat Jawa tulen. Radjiman merupakan seorang tokoh nasionalisme Jawa, yang memegang teguh adat Jawa kolot. Ia menganggap BO adalah sarana paling tepat untuk menghidupkan dan mengembangkan kebudayaan Jawa yang mulai tergeser nilai-nilainya.

Prinsip yang dipegang Radjiman adalah “bangsa Jawa adalah tetap bangsa Jawa”. Oleh karena itu identitas kebangsaan Jawa harus tetap dipertahankan dan sebaliknya, pengetahuan Barat tidak sesuai bagi orang Jawa. “Orang Jawa tidak perlu belajar Bahasa Belanda atau mengetahui kepandaian Eropa, sebab memang orang Jawa tidak dapat menguasai pengetahuan sebagai orang Eropa,” katanya dalam pidato sambutan kongres ke-I BO di Yogyakarta.[7] 

Pendapat Radjiman yang berlawanan dengan pergolakan pergerakan pada masa itu, jelas ditentang banyak kalangan progresif. Salah seorang penentangnya di antaranya adalah Cipto Mangunkusumo. Usai Dr. Radjiman berpidato, Cipto segera menginterupsi pendapat sang Ketua Umum. Ia sangkal pendapat Radjiman yang menganggap pendidikan Eropa bagi orang Jawa akan membuang jiwa kejawaannya, kerajinannya, kesopanannya dan ciri-ciri khasnya. Cipto menilai pemikiran semacam itu salah. Justru sebaliknya, pendidikan Eropa akan memperteguh rasa kebangsaannya. Ibarat kata, tidak lupa pada nasinya (perbaikan kesejahteraannya).[8] “Boekanlah toedjoeankoe menghilangkan bangsa ini dari sifat-sifat jang choesoes dan dari kebudajaannja, tetapi tjoema sekedar membela dan menoendjoekkan hak-hidoep bagi bangsa Hindia,” ucap Cipto kala itu. Namun, seolah sudah ada kebakuan pakem, BO tetap tidak berubah haluan. Pada Oktober 1908, Cipto keluar dari BO.

Sang pembangkang, barangkali itulah julukan yang tepat apabila disematkan kepada pahlawan nasional bernama Cipto Mangunkusumo. Sebagai seorang pembangkang di kalangan kaum pergerakan nasional Indonesia, ia memang terkenal blak-blakan ketika mengekspresikan rasa tidak sukanya terhadap pola hidup bermewah-mewah dan artifisial. Ia benci feodalisme yang masih dianut dan diaplikasikan dengan sangat kuat di kalangan priyayi Pribumi. Ia juga dikenal sebagai salah seorang Bumiputera terpelajar pertama yang mempunyai pendidikan barat terbaik saat itu. Dan sudah terkenal sebagai tokoh pergerakan, jauh sebelum tampil sebagai Wakil Ketua IP (Indische Partij) pada 1912 dan dibuang ke Belanda pada 1913. Ia adalah seorang yang memiliki kesadaran pikir tentang kemajuan Bumiputera dalam kerangka dominasi politik dan subordinasi.

Pembangkang Asal Ambarawa

Biografi tokoh Indonesia satu ini dimulai pada 1886, tatkala istri Mangunkusumo melahirkan seorang bayi yang kemudian dinamai Cipto Mangunkusumo di Ambarawa, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Mangunkusumo adalah seorang guru Bahasa Melayu di sekolah pemerintah untuk bumiputera, yang kemudian diangkat sebagai kepala sekolah dan kemudian naik jabatan menjadi pembantu administratif di Dewan Kotapraja Semarang.[9] Sementara itu, ibunya memiliki garis keturunan seorang tuan tanah di Mayong, Jepara. Meskipun keluarganya bukan tergolong priyayi birokratis yang tinggi kedudukan sosialnya, Mangunkusumo berhasil memberi pendidikan anak-anaknya ke jenjangnya yang tinggi.

Biografi Cipto Mangunkusumo

Bangku pendidikannya dikeyam di ELS (European Lagere School) yang diluluskannya pada 1899. Lepas dari ELS, ia masuk ke STOVIA (School Tot Opleiding voor Indische Artsen) dan lulus tahun 1905. Sewaktu sekolah di STOVIA inilah jiwa dan pikirannya mulai memperlihatkan sikap perlawanan. Dalam dirinya, muncul rasa tidak puas melihat keadaan sekeliling, terhadap susunan masyarakat dengan hubungan yang tidak sehat dan tidak adil.[10] Orang-orang di sekitarnya menilainya memiliki pikiran tajam, jujur, rajin dan berpembawaan kuat. Gurunya mengatakan bahwa Cipto adalah een begaafd leerling (murid yang mempunyai bakat besar). Berbeda dengan rekan-rekan satu sekolahnya yang cenderung mulai meniru-niru gaya hidup Belanda yang menyukai pesta dan main bola bilyard, akan tetapi Cipto sebaliknya. Ia tidak menyukainya.

Tidak seperti kebanyakan jebolan sekolahan pada zaman sekarang, yang menggantung buku dan penanya selulus sekolah, Cipto justru sebaliknya. Ia seperti kebanyakan para tokoh pergerakan lainnya (Soekarno, Mohammad Hatta, Muso dan lain sebagainya), sangat gemar baca buku, menulis, menghadiri seminar-seminar dan penghobi catur. Ketertarikannya ada dalam dua hal, menjadi seorang penulis dan dokter. Karena secara dengan menulis, ia sadar bisa menyebarkan gagasannya yang mampu memberikan pendidikan bagi banyak orang dari berbagai kepalsuan hidup. Juga dengan menulis, ia bisa berkelahi membela nilai-nilai kemanusiaan tanpa harus berbaku hantam.[11]

Ditilik secara penampilan, ia memang terlihat eksentrik. Pada masa itu para murid sekolah STOVIA diwajibkan mengenakan pakaian daerahnya masing-masing. Tetapi Cipto lebih memilih baju Kromo sebagai ciri khasnya. Dengan pakaian itu, ia memang nampak dekil dan kumal, rambutnya yang gondrong, nampak keluar dari songkoknya, sambil berjalan-jalan mengepul-ngepulkan asap rokok kretek. Selepas dari STOVIA, secara berturut-turut dia bekerja sebagai Indische Arts (Dokter Jawa) pada dinas Pemerintah Daerah Banjarmasin. Setahun ia bekerja di sana, kemudian ia dipindahtugaskan ke Demak dari 1906 hingga 1909.

Bermula lewat kalam, pada 1907, Cipto mulai menajamkan gagasannya melalui suratkabar liberal di Semarang, De Locomotief.[12] Lewat suratkabar inilah ia kemudian kerap mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial yang menyelewang. Sudah merupakan peraturan pada masa kolonial, apabila seorang pegawai negeri tidak diizinkan menulis di suratkabar. Kecuali masalah yang ditulisnya berkenaan dengan pekerjaannya. Akan tetapi ia begitu cinta tulis-menulis hingga lebih memilih keluar dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah, untuk kemudian menekuni diri dalam dunia jurnalistik. Inilah akhir karirnya sebagai dokter pemerintahan, meski kemudian tetap membuka praktek sebagai dokter partikelir di Solo. Sekira tahun 1910-an, Cipto menjadi dokter sukarelawan untuk dikirim ke daerah Malang, tempat berjangkitnya wabah pes.[13] Oleh karena itu, dia diganjar dengan bintang kehormatan Ridder in de orde van Oranje-Nassau (pahlawan dalam barisan Oranje-Nassau).[14] Tapi gelar itu justru diletakkan di pantat, untuk mengejek yang memberinya, yaitu pemerintah kolonial, ke manapun ia pergi.

Cipto dan Pembuangan

Sesungguhnya, tokoh biografi pahlawan nasional ini tak membenci dan menolak kebudayaan Jawa, yang dibencinya hanya kebudayaan kraton yang feodal dan jiwa kerdil para priyayi Jawa kolot anti perubahan. Keterlibatannya dalam politik pergerakan secara dalam, dimulainya sekeluar dari BO. Ketika itu dia segera bergabung dengan Douwes Dekker—yang dianggap sebagai soko guru jurnalistiknya, di harian De Expres[15] dan Het Tijdschrift. Dan ketika didirikan IP, pada 5 Oktober 1912, ia didaulat menjabat Wakil Ketua. Usia IP tak lama, karena IP bertujuan menuju Hindia untuk bangsa Hindia.[16] Organisasi ini dianggap terlalu radikal, setahun kemudian (31 Maret 1913)—tanpa restu para pendirinya, pemerintah membubarkan IP secara paksa. Namun orang-orang yang bernaung di bawahnya tidak berhenti bergerak, khususnya tiga serangkai. Sebelum dibubarkan, mereka sempat mengubah IP menjadi Insulinde, dengan kongresnya yang pertama di Semarang pada 21-23 Maret 1913.[17] Kongres itu tergolong sukses menjaring massa.

Pada awal Juli 1913, atas prakarsa empat orang, yaitu Cipto Mangunkusumo, R.M. Soewardi Soerjaningrat, Abdoel Moeis dan A.H. Wignjadisastra, didirikan Panitia untuk Peringatan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda disingkat Panitia Bumiputera. Tujuannya menarik perhatian umum, melancarkan suara yang mengecam kebijakan pemerintah, khususnya kolonialen raad (Dewan Jajahan), yang dinilai tidak layak dijadikan wakil rakyat.[18] Panitia ini meradang dan menerjang pemerintah kolonial, lewat sebuah brochure yang ditulis Soewardi Soerjaningrat bertajuk Als Ik Eens Nederlander Was... (Seandainya Saya Seorang Belanda). Tulisan ini jelas membuat pemerintah kolonial geram. Lihat saja kata-kata Soewardi yang tajam menampar muka pemerintah, sebagai berikut:
“...Seandainya saya orang Belanda, belum tentu saya berani berbuat segala-galanya. Memang, saya akan berharap agar pesta-pora hari kemerdekaan itu diselenggarakan semeriah mungkin, akan tetapi saya tidak ingin kaum pribumi di daerah-daerah ini turut serta dalam perayaan HUT tersebut, akan saya larang mereka turut bersuka-cita dalam perayaan-perayaan itu, bahkan tempat berpesta-pora ingin kupagari, agar orang-orang pribumi tidak dapat melihat sedikit pun kegembiraan kami yang meluap-luap dalam memperingati hari kemerdekaan itu.”[19]
Brochure itu dicetak di percetakan Eerste Bandoengsche Publicatiemaatschapij (Perusahaan Penerbitan Bandung Pertama), penerbit De Expres. Pada 20 Juli 1913, empat orang pemrakarsa Panitia Bumiputera, diminta untuk menghadap Officier van Justitie (Jaksa Tinggi) untuk ditanyai-tanyai. Tujuan pemeriksaan itu untuk menyelidiki, apakah brochure yang ditulis dengan nada sinis itu mempunyai maksud menghasut orang-orang, dengan pelanggaran seperti yang dimaksudkan dalam pasal 26 peraturan percetakan (drukpersreglement). Pada waktu itu mereka belum ditangkap, ketika dilepaskan Cipto melepas sebuah artikel berjudul “Kracht of Vrees” (Kekuatan atau Ketakutan), sedangkan Soewardi melepas sebuah artikel berjudul, “Een voor Allen, Allen voor Een” (Satu untuk Semua, Semua untuk Satu). Dua artikel itu dimuat di De Expres tanggal 26 dan 28 Juli 1913. Berikut petikan “Kracht of Vrees”:
“Apakah rasa takut yang mendorong orang-orang itu untuk menghancurkan pengaruh kita?
Bila benar demikian, maka penyitaan itu merupakan suatu kehormatan terhadap sekretaris kami. Di situ terbukti bahwa... (tulisan kritik yang pedas dan meracau Soewardi Soerjaningrat)... tidak dapat kita abaikan begitu saja... Seorang di antara para “jiwa paria”... akhirnya telah bangkit dan mengundang penghargaan orang dengan tulisannya yang arahnya tak menentu itu, yang telah menggerakkan massa kaum pribumi yang besar, lamban dan bersifat masa bodoh itu. Bagi bangsa Belanda hal ini tentu tidak menggembirakan!”[20]
Sebenarnya, atas anjuran ayahnya, Cipto telah diminta keluar dari Panitia Bumiputera, karena panitia itu telah menghebohkan masyarakat. Namun Cipto dengan keteguhan hatinya mengirimkan jawabannya melalui telegram. “Tugas saya baru saja dimulai. Selamat tinggal,” demikian isi telegram itu.[21] 

Pada 30 Juli 1913, Pengadilan Raad van Justitie Bandung melakukan pemeriksaan kepada Soewardi Soerjaningrat, Cipto Mangunkusumo, Abdoel Moeis dan Lembana Wignjadisastra. Keempatnya dianggap bertanggungjawab atas beredarnya tulisan-tulisan Soewardi yang dinilai meresahkan masyarakat.[22] Selain dipersalahkan atas artikel kontroversial yang ditulis Soewardi Soerjaningrat, keempat aktivis pergerakan ini dipersalahkan juga dalam kasus penyelenggaraan rapat-rapat gelap yang bertujuan mendirikan lembaga parlemen bagi Bumiputera di Hindia Belanda. Mereka diancam dengan hukuman 1 bulan hingga 1,5 bulan penjara dan denda sebesar f. 100-500.[23] 

Douwes Dekker yang baru saja kembali dari Eropa, seolah merayakan kehebatan Cipto dan Soewardi, dengan artikelnya “Onze Helden: Cipto Mangunkusumo en Soewardi Soerjaningrat”. Artikel itu dimuat De Expres pada 5 Agustus 1913. Pemerintah yang berang dengan tulisan-tulisan heboh yang mengancam fungsionalitas mereka, segera menjebloskan ketiganya dalam penjara. Pada 8 Agustus 1913, pemerintah kolonial mengeluarkan keputusan hukuman yang akan dijatuhkan kepada Cipto Mangunkusumo, Soewardi Soerjaningrat dan Douwes Dekker, atas dakwaan menentang pemerintahan yang sah. Tiga Serangkai pendiri IP itu divonis hukuman inteniran (hukuman buang) ke luar Pulau Jawa.

Namun ada opsi lain yang ditawarkan, ketiganya akan dibebaskan dari jeratan hukum, apabila bersedia pergi ke luar Hindia Belanda untuk masa minimal 30 hari. Mereka akhirnya memilih opsi terakhir, yaitu akan menuju ke Belanda dengan pertimbangan akan lebih bermanfaat.[24] Kemudian, pada 6 September 1913, mereka berangkat ke Belanda melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.[25] Akan tetapi, pada 27 Juli 1914, Cipto bersama Ny. Vogel (istrinya) pulang terlebih dahulu ke Hindia Belanda, karena buruknya kesehatan Cipto di tanah seberang.[26] Mereka sampai di Hindia Belanda pada 22 Agustus 1914,[27] untuk kemudian menetap tinggal di Surakarta. Sekembalinya dari Belanda, Cipto masih terjun dalam ranah politik. Ia masih tetap garang dalam menggalang massa IP, yang telah berubah menjadi Insulinde (1914). Sebagai seorang yang aktif dalam dunia pergerakan yang sudah membuktikan keteguhan hati dengan dibuang, wibawanya jadi tinggi, khususnya di kalangan anggota Insulinde.[28] 

Jelas ini mempengaruhi bergelombangnya massa untuk berduyun-duyun masuk ke Insulinde yang berpusat di Solo. Pada waktu Cipto baru kembali (1914), Insulinde belumlah memiliki massa begitu besar. Cipto segera menerbitkan media propaganda lagi, antara lain Panggoegah dan majalah bulanan Indische Beweging. Namun begitu berada di bawah komando Misbach—seorang yang beraliran Islam-Komunis radikal, Insulinde cabang Surakarta berkembang sangat pesat. Misbach mampu mengakomodir para petani melakukan pemogokan melawan pemerintah melalui artikel-artikelnya yang tajam. Ia juga membuat karikatur yang dimuat 20 April 1919 dalam Islam Bergerak yang menggambarkan penghisapan untuk menggerakkan mereka. Akan tetapi, Cipto bercabang, ia sudah berumur tigapuluh tahun ketika itu, karena itu tak bisa lagi mengikuti keradikalan anak-anak muda yang bersemangat baru itu. Menyusul ancaman Residen Semarang (27 Juli 1916), yang mengusulkan kepada Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum, agar Cipto dibuang ke luar Jawa. Pada 5 Agustus 1916, Cipto Mangunkusumo terpaksa keluar dari hoofdbestuur (Pengurus Tinggi) Insulinde dan berhenti dari hoofdbestuur Der Indier.[29]  

Semasa ini, ia tak lagi berada di pusat kekuasaan Insulinde, ia cari jalan lain lewat jalur resmi yang diciptakan pemerintah kolonial. Pada 1918, pemerintah kolonial membentuk Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), yang para anggotanya dicomot dari orang-orang bangsa Belanda dan Bumiputera. Cipto ditunjuk menjadi wakil rakyat di Volksraad periode 1918-1921.[30] Pada masa Cipto duduk di bangku Volksraad, mulai muncul sejumlah kericuhan. Insulinde, yang dikomandoi oleh Misbach, membesar dan sukar dikendalikan, sekaligus berada dalam keadaan rentan. Cipto yang saat itu menjabat Sekretaris Insulinde Pusat di Semarang, berupaya menengahi keadaan dengan dua jalan yaitu mencoba berdialog dengan para petani dan menyuarakan lewat Volksraad. Akan tetapi semua sia-sia, mogok para petani tetap berjalan. Sekira 600 orang petani yang mengadakan mogok dibubarkan paksa oleh Residen Harloff dengan bantuan polisi. Misbach sendiri bersama 80 orang pemimpin dan anggota kring dipenjarakan. Insulinde Surakarta berantakan.

Kekacauan ini tak berhenti sampai situ saja. Periode 1918-1920, Insulinde yang kemudian berubah menjadi Nationaal Indische Partai-Sarekat Hindia (NIP-SH), menambah deretan di daftar hitam pemerintah kolonial. Puncak dari semua masalah ini terjadi pada 4 Januari 1921, ketika Residen Harloff memerintahkan penangkapan Cipto. Untuk akhirnya divonis hukuman inteniran ke Banda pada 1927 hingga akhir hayatnya. Kata-kata terakhir yang masih sempat ia katakan, “tanggal 8 Maret pemerintah kolonial menyerah. Tanggal itu juga, aku mau menyerahkan diri kepada yang maha kuasa.”[31]

Gagasan Sang Ksatria

Pemikiran Cipto mengenai Hindia Belanda, sebenarnya sangat sederhana. Hal itu adalah adalah mengenai perbaikan kesejahteraan rakyat.[32] Atau dengan kata lain, dari kacamatanya sebagai seorang dokter, perhatian pada pembangunan yang “sehat” bagi negeri ini. Dalam diskusi via surat (19 Januari 1916) dengan sahabatnya yang orang Belanda, ia menyebutkan:
“Obat untuk penyakit apa pun sebenarnya sangat mudah jika penyakitnya diketahui. Dalam kasus kami sekarang semuanya sudah jelas, saya pikir, bahwa (masalahnya) karena kurangnya semangat perlawanan. Budaya Jawa tak membolehkan munculnya kritik terhadap kebijakan pemegang kuasa—sebaliknya, budaya ini mengharuskan kita tunduk tanpa syarat pada pandangan penguasa. Susuhunan, misalnya, boleh menyatakan bahwa ia keturunan Adam dan Arjuna, semata-mata untuk menjadikan dirinya berasal dari sumber yang suci dan hebat, sehingga ia bisa mengontrol kita dan membuat kita merasa sebagai manusia biasa, keturunan Kromo atau Soeto yang tidak akan berhasil dalam setiap pemberontakan. Karena dewa-dewa adalah nenek moyang Susuhunan maka tak perlu dibilang bahwa mereka jelas membela pemegang kuasa ini.”[33]
Pada dasarnya, surat ini bukan sekedar gagasan dari seorang revolusioner yang memiliki latarbelakang sebagai dokter. Kemudian, masih dalam surat yang sama, ia melanjutkan tulisannya:
 “Akan tetapi, izinkan saya kembali menjelaskan obat kami. Saya bisa bilang bahwa itu tak lain adalah pengorganisasian rasa tidak puas, sama seperti yang akan dikatakan De Locomotief. Oposisi harus dilakukan terhadap pemegang kuasa, dengan wajar dan jika mungkin dengan pengetahuan (nyata) tentang hal-hal tersebut. Tetapi, jika terbukti tidak bisa, oposisi demi oposisi terhadap dominasi Belanda, sebab saya pun akan tetap beroposisi jika orang Jawa yang berkuasa. Kamu tahu lebih banyak daripada saya bahwa di dalam BB (Binnenlandsche Bestuur), misalnya, ada pejabat-pejabat yang luar biasa takutnya terhadap kritik yang tajam. Jujur saja, inilah alasan mengapa saya justru melakukannya (yaitu mengekspresikan kritik yang tajam) pada tempat pertama, kedua, dan ketiga. Betapapun, kekhawatiran adalah cara yang baik untuk mencegah terjadinya penyimpangan kekuasaan.”[34]
Bisa dikatakan, sekilas jawabannya sungguh sederhana.[35] Seperti ditulis pahlawan nasional Indonesia ini, ia membicarakan tentang “obat” dan “penyakit”. “Penyakit” yang dimaksudnya adalah “sifat patuh orang Jawa”,  “kurangnya semangat perlawanan (oppositiegeest)”, membuat pemerintah kolonial tidak tahu harus bagaimana dengan koloninya, sehingga membiarkan penyimpangan terjadi. Oleh karena itu, Cipto mengatakan “obat” permasalahan tersebut hanya satu, adalah membangkitkan semangat perlawanan melalui “pengorganisasian rasa tidak puas”, di mana akan membuat mata orang Belanda terbuka. Dalam surat itu terlihat jelas karakter Cipto yang revolusioner.

Dengan melihat model perjuangan Pangeran Diponegoro, Cipto meyakini kemerosotan moral, sebagai sebuah model pembentukan karakter. Dia yakin, menempa orang Jawa menjadi ksatria seperti Diponegoro, melalui sederetan kesulitan dan kerja keras, merupakan “obat” bagi “sifat patuh orang Jawa” dan ia menyebut orang Jawa yang bereinkarnasi menjadi ksatria yang akan menjadi warga Hindia Belanda yang merdeka dan bebas di masa depan.[36]

Namanya Diabadikan sebagai Rumah Sakit

Biografi tokoh Dr Cipto Mangunkusumo selesai ketika dirinya wafat tanggal 8 Maret 1943 di Jakarta. Ia dikebumikan di Watu Ceper, Ambarawa. Demi mengenang jasa-jasa dan pengorbanan beliau, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan berdasarkan SK Presiden RI No 109 Tahun 1964, tertanggal 2 mei Tahun 1964 sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Saat ini, namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di Jakarta.

== Endnote ==

[1] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Pers, 1997, h. 161.
[2] Taufik Rahzen, dkk., Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: I-BOEKOE, 2007, h. 42.
[3] Ibid. Lihat juga Panggoegah, 16 Juni 1919 dan Takashi Shirashi, Op.Cit., h. 238.
[4] Taufik Rahzen, dkk., Ibid.
[5] BO merupakan perhimpunan kebangsaan yang anggotanya terdiri atas para priyayi, para bangsawan ningrat pribumi. Dipelopori oleh anak bangsa lulusan sekolah dokter Jawa, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), BO didirikan pada 20 Mei 1908. Gagasan pendirian BO dirintis oleh Wahidin Soediro Husodo dengan para penggerak perdananya seperti Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Radjiman Wediodiningrat, serta Mangunkusumo bersaudara, Goenawan dan Cipto.
[6] Tim Penulis, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Timur, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978, h. 46-47 dan Pembrita Betawi, 5-7 Oktober 1908.
[7] Pembrita Betawi, Ibid.
[8] Pembrita Betawi, Ibid.
[9] Takashi Shiraishi, Op.Cit., h. 160.
[10] M. Balfas, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Demokrat Sejati, Jakarta: Djambatan, 1952, h. 31.
[11] Ibid., h. 7.
[12] Taufik Rahzen, Op.Cit., h. 44.
[13] Pada 1910 penyakit pes mulai menggejala di Hindia Belanda, namun baru pada April 1911 wabah pes mulai menjangkit hampir ke seluruh wilayah Pulau Jawa. Lihat: Bintang Soerabaia, 12-30 April 1911 dan Pembrita Betawi, 1-31 Mei 1911.
[14] Pitut Soeharto dan A. Zainoel Ihsan, Belenggu Ganas, Jakarta: Aksara Jayasakti, 1982, h. 17. Lihat juga: Perniagaan, 15 Juli 1912.
[15] Pada 1 Maret 1912, De Express terbit untuk pertamakalinya di Bandung. Merupakan sebuah harian berbahasa Belanda yang menyediakan forum guna membahas berbagai masalah politik yang aktual di Hindia Belanda. De Expres juga merupakan corong bagi Indische Partij. Lihat: Pantjaran Warta, 21 Februari 1912 dan Jurnal Nasional, 1 Maret 2007 dan baca: Muhidin M. Dahlan dan AN Ismanto, ed., 1907-2007; Seabad Pers Kebangsaan, Jakarta: I-BOEKOE, 2007, h. 51.
[16] Marwati Djoened, dkk., Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, h, 187.
[17] M. Balfas, Op.Cit., h. 54.
[18] Pitut Soeharto dan A. Zainoel Ihsan, Op.Cit., h. 2.
[19] Ibid., h. 21.
[20] Ibid., h. 28.
[21] Ibid., h. 12.
[22] Proses penangkapan keempat orang ini dilakukan secara besar-besaran. Pemerintah kolonial menyiapkan satu setengah kompi militer, yang ditempatkan ke dalam beberapa seksi. Tugas mereka mengamankan Bandung dari aksi amuk massa pendukung Panitia Bumiputera. Lebih lanjut lihat: Perniagaan, 1 Agustus 1913 dan IS
[23] Perniagaan, 1 Agustus 1913, Ibid.
[24] Pantjaran Warta, 3 September 1913 dan AS, 280.
[25] MCS, 357 dan SJ, 66. Pada 20 November 1913, Pleyte—Menteri Urusan Tanah Jajahan, dalam sidang Tweede Kamer (Dewan Kedua di Belanda) menerangkan bahwa pemerintah kolonial tidak bermaksud untuk membuang tiga tokoh IP itu seumur hidup. Jika keadaan di Hindia-Belanda telah mereda dan pengaruh ketiganya memudar, maka pihak Kerajaan Belanda dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda akan mengadakan perundingan pemberian ampunan kepada ketiganya, lihat: Djawa Tengah, 24 November 1913.
[26] Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta: Kompas, 2000, h. 277.
[27] Ibid., h. 280. Cipto tiba di Surabaya diantarkan Darma Kasoem naik keretapi. Pada 18 Oktober 1914, diadakan pesta penyambutan kedatangan Cipto, yang dihadiri oleh sekira 400 orang anggota Insulinde. Lihat: Tjahaja Timoer, 23 Oktober 1914 dan Sinar Djawa, 20 Oktober 1914.
[28] Takashi shirashi, Op.Cit., h. 162.
[29] Ibid., h. 162-163. Ancaman itu terjadi, pasca Residen Semarang menginterogasi Cipto, waktu memohon mengadakan rapat umum propaganda terbuka Insulinde di Juwana, disertai kekhawatiran Residen atas sepak terjang Cipto yang makin banyak didukung rakyat.
[30] Mengenai penunjukkan Cipto sebagai wakil dari Volksraad, lihat Andalas, 25 September 1917 dan Oetoesan Melajoe, 19 November 1917.
[31] M. Balfas, Op.Cit., h. 41.
[32] Takashi Shiraishi, Op.Cit., h. 164.
[33] J.B. Kristanto, Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: Kompas, 2000, h. 689.
[34] Ibid.
[35] Takashi Shirashi, Op.Cit., h. 164-166.
[36] J.B. Kristanto, Op.Cit., h. 691.

Referensi

I. Buku 

J.B. Kristanto, Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: Kompas, 2000.
M. Balfas, Dr. Radjimani, Sang Demokrat Sejati, Jakarta: Djambatan, 1952.
Marwati Djoened Poesponegoro, dkk., Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta: Balai Pustaka, 1993.
Muhidin M. Dahlan dan AN Ismanto, ed., 1907-2007; Seabad Pers Kebangsaan, Jakarta: I-BOEKOE, 2007.
Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta: Kompas, 2000.
Pitut Soeharto dan A. Zainoel Ihsan, Belenggu Ganas, Jakarta: Aksara Jayasakti, 1982.
Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Pers, 1997.
Taufik Rahzen, dkk., Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: I-BOEKOE, 2007.

II. Koran Sezaman

Bintang Soerabaia, 12-30 April 1911.
Djawa Tengah, 24 November 1913.
Jurnal Nasional, 1 Maret 2007. 
Panggoegah, 16 Juni 1919.
Pantjaran Warta, 21 Februari 1912.
Pantjaran Warta, 3 September 1913.
Pembrita Betawi, 1-31 Mei 1911.
Pembrita Betawi, 5-7 Oktober 1908.
Perniagaan, 15 Juli 1912.
Perniagaan, 1 Agustus 1913.
Sinar Djawa, 20 Oktober 1914.
Tjahaja Timoer, 23 Oktober 1914.
Andalas, 25 September 1917.
Oetoesan Melajoe, 19 November 1917.

Biografi Abdul Halim Perdana Kusuma – Pahlawan Indonesia yang Gugur di Tanjung Hantu

Abdul Halim Perdana Kusuma lahir di Sampang, Madura, tanggal 18 November 1922. Setamatnya Sekolah Menengah Tingkat Pertama di MULO, Abdul Halim mendaftar di sekolah Pamong Praja Opleidingscholen Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Namun, belum sempat menamatkan pendidikannya, dia harus mengikuti misi Hindia Belanda. Dia mengikuti pendidikan bagian navian di Royal Canadian Air Force di dinas angkatan laut di Inggris. Abdul Halim baru dapat kembali ke Indonesia setelah Perang Dunia II selesai. Waktu dia pulang, Indonesia sudah dalam keadaan merdeka.

Setelah Indonesia merdeka, Abdul Halim mendapatkan tanggung jawab sebagai Tentara Keamanan Rakyat pada Jawatan Penerbangan. Dalam perkembangannya, TKR Jawatan Penerbangan berubah menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pada 1947, Abdul Halim ditugaskan untuk membina Angkatan Udara di Sumatera. Beliau juga pernah ditunjuk sebagai wakil AURI dalam komandemen pasukan bersama Iswahyudi.

Biografi Abdul Halim Perdana Kusuma – Pahlawan Indonesia yang Gugur di Tanjung Hantu
Gambar pahlawan nasional, Halim Perdana Kusuma.

Halim Perdana Kusuma bersama Iswahyudi ditugaskan terbang ke Bangkok untuk mencari bantuan obat-obatan dan peralatan untuk para pejuang Indonesia. Saat perjalanan pulang dari Bangkok, pesawat yang mereka kemudikan mengalami kerusakan berat. Pada saat itu, peralatan penerbangan yang ada belum memadai. Bahkan, pesawat yang ada pada waktu itu diperoleh dari sisa-sisa perang. Akhirnya, pesawat yang mereka tumpangi jatuh di Tanjung Hantu, Malaysia pada 14 Desember 1947. Jenazahnya kemudian dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Abdul Halim merupakan salah satu contoh pejuang yang setia menjalankan tugas negara. Tanggung jawabnya dalam menjalan tugas dapat menjadi teladang bagi ita semua. Untuk itulah, pemerintah Indonesia menganugerahi gelar pahlawan nasional pada dirinya. Pada 9 Agustus 1975, berdasarkan Keppres No. 63/TK/1975, namanya resmi dicatat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Tahukah kamu!

Untuk menghargai jasa Abdul Halim sebagai pahlawan Indonesia, pemerintah Indonesia menjadikan namanya sebagai:
  1. Salah satu bandara di Jakarta, yaitu Bandara Halim Perdana Kusuma.
  2. Salah satu nama jalan di ibukota Jakarta.
  3. Nama kapal perang, KRI Abdul Halim Perdana Kusuma.

Biografi R.A. Kartini – Pelopor Emansipasi Wanita Indonesia

Raden Ajeng Kartini atau lebih dikenal Ibu Kartini merupakan keturunan keluarga terpandang Jawa. Dia lahir 21 April 1879, dimana adat istiadat masih kukuh dipegang oleh masyarakat, termasuk keluarganya. Satu hal yang diwariskan dari keluarganya adalah pendidikan. Ya, Kartini pernah merasakan bangku sekolah hingga tamat pendidikan dasar. Karakternya yang haus akan ilmu pengetahuan membuatnya ingin terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sayangnya, ayahnya tidak memberikan izin Kartini melanjutkan sekolah. Mengetahui sikap ayahnya, Kartini sebenarnya sedih. Namun, dia tidak bisa mengubah keputusan itu. Sebab, dia adalah anak pada zamannya yang masih terbelenggu oleh keadaan.

Biografi R.A. Kartini – Pelopor Emansipasi Wanita Indonesia
Lukisan Gambar R.A. Kartini | Wikipedia.

Alhasil, justru Kartini tidak boleh lagi keluar dari rumah sampai waktunya menikah. Istilahnya dipingit. Demi menghilangkan rasa bosan dan suntuk berada di rumah terus. Kartini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku ilmu pengetahuan. Kesukaannya membaca ini berubah menjadi rutinitas harian. Bahkan, dia tidak segan untuk bertanya kepada ayahnya bila ada hal yang tidak dimengertinya. Lambat laun pengetahuannya bertambah dan wawasannya pun meluas.

Banyak karya dan pemikiran wanita Eropa yang dikaguminya. Terlebih kebebasan mereka untuk bisa terus bersekolah. Rasa kagum itu menginspirasinya untuk memajukan wanita Indonesia. Dalam pandangannya, wanita tidak hanya harus bisa urusan “belakang” rumah tangga saja. Lebih dari itu, wanita juga harus bisa dan punya wawasan dan ilmu yang luas. Dia pun mulai bergerak mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajari baca tulis dan pengetahuan lainnya. Makin hari, Kartini makin disibukkan dengan aktivitas membaca dan mengajarnya.

Dia juga punya banyak teman di Belanda dan sering berkomunikasi dengan mereka. Bahkan, dia sempat memohon kepada Mr. J.H. Abendanon untuk memberinya beasiswa sekolah di Belanda. Belum sempat permohonan tersebut dikabulkan dia dinikahkah oleh Adipati Rembang bernama Raden Adipati Joyodiningrat.

Biografi R.A. Kartini – Pelopor Emansipasi Wanita Indonesia
Foto R.A. Kartini dan suaminya | Wikipedia.

Berdasarkan data sejarah, R.A. Kartini ikut dengan suaminya ke Rembang setelah menikah. Walau begitu api cita-citanya tidak padam. Beruntung Kartini memiliki suami yang mendukung cita-citanya. Berkat kegigihan serta dukungan sang suami, Kartini mendirikan Sekolah Wanita di berbagai daerah. Seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan sebagainya. Sekolah Wanita itu dikenal dengan nama Sekolah Kartini.

Kartini merupakan seorang wanita Jawa yang memiliki pandangan melebihi zamannya. Meski dia sendiri terbelenggu oleh zaman yang mengikatnya dengan adat istiadat. Pada 17 September 1904, Kartini menghembuskan napas terakhir di usia 25 tahun, setelah melahirkan anak pertama dan satu-satunya. Dia salah satu wanita yang menjadi pelopor emansipasi wanita di tanah Jawa.

Surat-surat korespondensinya dengan teman-temannya di Belanda kemudian dibukukan oleh Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini telah menginspirasi banyak wanita, tidak saja, wanita di zamannya tapi juga wanita kini dan masa depan.

Sesuai Keppres No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964, Kartini resmi digelari pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia. Keppres ini juga menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan. Tidak hanya di kota-kota di Indonesia saja, melainkan di kota-kota di Belanda. Seperti Kota Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Harleem. WR. Supratman bahkan membuatkan lagu berjudul Ibu Kita Kartini untuk mengenang jasa-jasanya.

Beberapa buku biografi Kartini yang melukiskan tentang Perjuangan R.A. Kartini. Antara lain: Imron Rosyadi, R.A Kartini Biografi Singkat 1879-1904, Garasi: Yogyakarta, 2012; Ishadi, RA Kartini, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta: 1986; Farhan MH, Ayo Mengenal Lebih Dekat Biografi R.A. Kartini, Bintang Cemerlang, tkt: tt; dan masih banyak lagi lainnya.