Biografi Minto – Penemu Alat Pengolah Tenaga Surya

Waton tekun, mesti ketemu tujuane. Ora usah neko-neko!
(Asal tekun, pasti berhasil. Tidak usah berbuat yang aneh-aneh!)
Matahari merupakan energi utama bagi kehidupan di bumi ini. Tidak seperti energi yang berasal dari dalam perut bumi—tidak terbarukan, energi matahari merupakan bentuk energi alami yang bisa diperbarui. Karena itu sumber energi ini tidak akan habis.

Seorang putra bangsa Indonesia bernama Minto berhasil menemukan alat pengolah sumber energi renewable energy (matahari) yang telah diterapkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Alat ini serupa dengan kinerja tumbuh-tumbuhan yang mampu mengubah sinar matahari menjadi energi untuk melakukan kerja fotosintesis. Nama alat ini adalah kompor bertenaga surya.

Bermula dari Ide Sederhana

Penemuan ini terpantik oleh kenyataan bahwa masyarakat pedesaan yang hidup di kaki Gunung Wilis (Madiun), tempatnya tinggal, terlalu bergantung pada kayu sebagai bahan bakar pokok. Padahal hutan jati di wilayah itu semakin gundul. Mengakibatkan masyarakat harus berjalan kaki sejauh 3,5 hingga 8 kilometer demi mendapatkan kayu-kayu sebagai bahan bakar memasak. Terdorong kenyataan ini, Minto, berangan-angan membikin sebuah kompor berbahan bakar selain kayu dan minyak, yakni sinar matahari. Meskipun, menurut pengakuannya sendiri, sudah sedari kecil ia memiliki hasrat soal sinar panas matahari. "Waktu kecil saya kerap bertanya kepada keluarga, untuk apa Tuhan menciptakan matahari dengan sinar yang panas?" Angan-angan itu muncul pertama kali tahun 1989, tetapi gambaran bentuk dan wujud kompor bertenaga surya belum terbayang.

Biografi Minto – Penemu Alat Pengolah Tenaga Surya

Ada angan-angan belum terbayang tetapi tak tinggal diam, begitulah Minto. Ia mendapat hipotesa awal semua alat yang dirancangnya cuma dari buku pelajaran IPA kelas 5 SD; tentang radiasi, konveksi, dan konduksi—intinya tentang proses pemindahan panas untuk difokuskan. Cermin suryakanta (cembung) yang diarahkan ke matahari dan membentuk fokus akan mampu membakar kertas. Berdasarkan fenomena itu selanjutnya tercetus pikiran: apabila bentuk cermin itu diperbesar, tentu panas yang dihasilkan akan lebih tinggi. Hipotesa itu terbukti betul karena dari serpihan-serpihan kaca datar yang ditempelkan hingga membentuk kaca cembung—mirip parabola berdiameter dua meter—, akan dihasilkan panas yang sanggup mendidih air.

Sukses Itu Butuh Tenaga, Biaya, dan Waktu

Keberhasilan ini didapat hanya berselang tiga tahun, 1991, sejak ia berangan-angan di tahun 1989. Sungguh pencapaian kerja yang cepat, keras dan juga hebat. Sebetulnya prinsip kerja kompor bertenaga suryanya cukup sederhana, yakni hanya mengubah sinar matahari menjadi energi panas. Didasarkan pada pantulan cahaya matahari oleh beberapa keping cermin datar, yang ditata sedemikian rupa pada kerangka reflektor yang bentuknya menyerupai parabola. Bila reflektor diarahkan tegak lurus searah datangnya sinar matahari dan semua pantulan akan menuju ke satu titik. Kumpulan sinar pantul ini kemudian menimbulkan panas yang teramat tinggi. Apabila diameternya hanya 190 sentimeter, satu liter air mampu dididihkan dalam hitungan 5-6 menit. Apabila diameternya 286 sentimeter (dua meter lebih) bisa lebih cepat, yakni 1,5 menit.

Kesuksesan ini memicu semangatnya untuk berkreasi lagi. Penemuan pertamanya disusul penemuan keduanya. Ia mengembangkan alat temuannya (kompor bertenaga surya) menjadi alat dwi fungsi. Jadi kompor ok. Jadi antena parabola pun bisa. Prinsip kerja antena parabolanya merupakan kelanjutan dari prinsip kerja kompor tenaga suryanya. Hanya saja dibutuhkan alat-alat tambahan, seperti Low Noise Block (LNB), feed horn, receiver, kabel dan pesawat televisi.

Berikut penjelasannya: reflektor yang tegak lurus dengan arah datangnya gelombang elektromagnetik dari satelit akan memantulkan kembali semua gelombang itu menuju fokus. Kumpulan gelombang tersebut ditangkap LNB yang berlaku sebagai penguat sinyal. Dari LNB ini diteruskan lagi ke receiver lewat kabel untuk dipilih gelombang mana yang diinginkan. Dari reicever diteruskan ke pesawat televisi.

Ide-ide berkaitan dengan pembuatan alat-alat bertenaga surya terus bermunculan di benak Minto. Secara bertahap kemudian dikembangkan alat pengering tenaga surya (1998), alat pemanas air tenaga surya (2002), alat penyuling air tenaga surya (2003), dan rumah surya (2004). Ketekunan ini berbuah penghargaan, tak hanya dari kalangan nasional melainkan kalangan internasional pula.

Penghargaan

Banyak sudah penghargaan diterimanya terkait penemuannya ini. Mulai dari Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), Bappeda Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Daerah Tingkat II Kupang (NTT) dan Universitas Udayana Denpasar (Bali), Presiden Soeharto (1993), Menteri ESDM (2002), dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2005). Ia juga pernah diusulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerima penghargaan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Di samping itu, ratusan surat telah diterimanya. Isinya meminta agar pak guru mau menebarkan ilmunya kepada masyarakat luas.

Namun, meski ia sudah diakui dan menerima penghargaan sebagai seorang penemu, Minto tetap tak meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru, karena guru adalah profesi utamanya. Minto menghembuskan nafas penghabisan pada 2006. Ya, tekun dan tak perlu neko-neko, nampaknya peninggalan inilah yang bisa kita petik dari biografi tokoh Indonesia bernama Minto ini.

SUMBER

Koran, Majalah
Kompas, 21 Januari 1999
Kompas, 26 April 1999
Kompas, 12 Januari 2002
Kompas, 31 Maret 2005
Radar Madiun, 29 Desember 2008
Sinar Harapan, 25 Februari 2005
Koran Tempo, 27 Januari 2005
Lampung Post, 25 Februari 2005

Internet
Surya. Diakses tanggal 25 Februari 2009.
Salam.Leisa. Diakses tanggal 25 Februari 2009.

(Nb. dicuplik dari buku Lilih Prilian Ari Pranowo, 30 Tokoh Penemu Indonesia, Yogyakarta: Narasi, 2009)